Sejenak aku memperbaiki letak tubuhku yang bersandar manis di sebuah kursi empuk dengan sambil mengamati sebuah laptop kecil di depanku diiringi lagu dari Shayne Ward ‘Breahtless’ yang berulang kali aku repeat semakin membuat jari-jariku bersemangat untuk memaparkan sedikit yang telah aku pikirkan dengan tema yang sama..masih seputar kemiskinan…

Dengan membaca sebuah artikel lama dari http://jawaban.com, hatiku semakin teriris. Dikatakan bahwa pada tanggal 11 Juli 2007, Badan Dunia yang menangani masalah pangan, World Food Proramme (WFP) memperkirakan, anak Indonesia yang menderita kelaparan akibat kekurangan pangan, saat itu jumlahnya mencapai 13 juta orang (bayangkan angka itu meningkat di tahun 200 sekarang ini)… Oh Tuhan…jumlah yang sangat tidak sedikit. Kenyataan ini justru sangat berbeda dengan apa yang baru saja aku alami, sebab beberapa jam yangl lalu aku kekenyangan sehabis makan enak, begitu juga dengan adik dan ibuku yang baru saja pulang dari makan di sebuah restoran ternama di Makassar. Yah, kenyataan selalu menawarkan hal yang tidak bisa kita duga…
Direktur Regional Asia WFP, Anthony Banbury, mengatakan bahwa anak-anak yang kelaparan itu tersebar di berbagai tempat di Tanah Air khususnya di tiga kawasan, yakni Perkoataan, daerah konflik dan daerah rawan bencana.
Bagi orang-orang yang mengerti tentang kekayaan Sumber Daya Alam yang dimiliki oleh Indonesia, pasti bertanya-tanya…mengapa 13 juta anak (jumlah di tahun 2007) sampai harus merasakan kelaparan???
Banyakanya anak-anak yang kelaparan (mohon diperhatikan sekali lagi 13 juta anak, bukan jumlah yang sedikit!), agaknya mengharuskan kita untuk peduli dan peka terhadap keadaan yang sangat menyedihkan bangsa ini. Bayangkan apa yang bisa dialami oleh 13 juta anak tesebut, bila untuk makan saja harus mengalami kesulitan, bagaimana dengan gizi, kesehatan, kekebalan tubuh terhadap penyakit, dan proses pertumbuhannya? Negara ini membutuhkan bibit-bitit muda untuk melanjutkan masa depan bangsa….Apalagi angka anak yang mnderita kelaparan itu juga diikuti dan didasari dengan jumlah warga miskin, diperburuk lagi oleh besarnya jumlah penduduk yang miskin di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin pada Maret 2007 sebanyak 37,17 juta jiwa. Bagi kalangan pengamat, data kemiskinan BPS ini bertentangan dengan realitas (Media Indonesia, 4 Juli 2007). Sedangkan menurut laporan Australia-Indonesia Partnership (Juli 2004) “Lebih dari separuh penduduk Indonesia yang berjumlah 210 juta rawan terhadap kemiskinan. Pada tahun 2002, Bank Dunia memperkirakan 53% penduduk atau sekitar 111 juta jiwa, hidup di bawah garis kemiskinan standar internasional yaitu US$ 2 per hari. Kemiskinan bukan hanya sekedar masalah pendapatan dan pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari yang tidak memadai. Banyak penduduk miskin dan kurang mampu belum memiliki akses ke pendidikan dasar, pelayanan kesehatan dan gizi yang cukup. Sekitar 25 juta penduduk Indonesia buta huruf. Hampir 50 juta jiwa menderita gangguan kesehatan, sementara jumlah yang sama tidak memiliki akses ke fasilitas kesehatan. Banyak komunitas tidak memiliki infrastruktur dasar yang memadai seperti penyediaan air bersih, sanitasi, transportasi, jalan raya dan listrik. Persepsi bias terhadap perempuan masih berlaku, sementara konflik sosial dan agama serta bencana alam telah menyebabkan jutaan penduduk mengungsi dan terjerumus ke lembah kemiskinan atau sangat rawan akan kemiskinan”
Hal ini tentu benar-benar sangat memprihatinkan…Sudah saatnya bagi kita untuk lebih kritis dan peduli terhadap nasib anak-anak bangsa….Sebab, kalau bukan kita siapa lagi…
Sumber :http://www.jawaban.com dan Portal Sarapan Pagi