Sering kali, aQ berfikir tentang perbedaan nasib yang dialami oleh banyak orang. aQ mungkin memang sedikit beruntung dengan ‘nasib’ miskin-kaya itu. Meski, aQ juga pernah ngalamin masa sulit dalam keluargaQ tapi setelah itu Tuhan memberi jalan yang terbaik dan alhamdulillah seperti skearang ini.
Beberapa orang yang dekat denganQ mengajarkanku tentang ‘perbedaan nasib’ itu, tapi yang dapat Qliat dengan jelas. Ketidak keberuntungan seringkali mengajarkan sesuatu yang lebih bernilai dan bermanfaat dari sekedar menjadi beruntung.

Kemiskinan mengajarkan tentang kedisplinan yang lebih tangguh dari yang bisa Qta bayangkan, kemiskinan mengajarkan tentang kekerasan yang kadang baik untuk Qta.
Apa karena aQ g pernah ngerasain yang namanya susah, sehingga aQ jd kurang bisa belajar tentang kedisplinan, gampang goyah dan hanya bisa nyusahin orang lain? Apa karena aQ hampir selalu merasa mudah mendapatkan sesuatu, akhirnya membuat aQ tidak pernah mau belajar?
Dan apa karena aQ selama ini selalu penuh dengan kasih sayang, jadi membuat aQ nggak pernah bisa menghargai sesuatu yang sesungguhnya sangat bermakna?
Jika benar begitu, ijinkan aQ memasuki dunia itu…dan apa aQ salah karena memiliki kehidupan seperti ini….mungkin yang salah hanyalah caraQ saja… *payah*
Gitu kali ya, baru aQ bisa belajar….*nampar diri sendiri*
Tulisan ini untuk memperingati blog action day…








43 tanggapan kepada “Miskin Itu Belajar”
Roni Rezeki
Oktober 12th, 2008 pada 06:05
Miskin ada karena ada yg Kaya & begitu juga sebaliknya, hargai apa yg kita punyai sekarang & berikan sedikit yg kita punya bagi yg tidak memiliki.
Jika benar-benar ingin memasuki dunia tersebut siapkan mental baja karena kemiskinan sangat dekat dengan kekerasan & dilecehkan. Jika belum siap sebaiknya tetap di garis yg lain tapi tetap memberikan sedikit yg kita punya dengan iklas tentunya atau bisa memberikan pendidikan yg sangat besar maknanya untuk mereka.
Sarah : Nice commnet, aQ rasa mmg bgtu, untuk smntra aQ hanya bisa berdoa dan membantu apa yang bisa Qbantu, hanya kecil2an macam ngasih duit ke pangemen atas ‘jasa’ nyanyi-nya klo lagi duduk2 di pantai, dll. Well, kekerasan dan pelecehan itulah yg kerap kali membuat merek albh kuat dan lbh mampu bertahan dalam kerasnya kehidupan…dan itu yg Qbutuhkan skrg, tp apa bisa y, soalnya aQ nyadar dgn keterbatasan aQ ini
Abdee
Oktober 12th, 2008 pada 09:47
Keren Refleksinya…
Sarah : Masa sich?? Kayaknya nggak banget dech..hehe..tapi makasih deh udah dipuji..eh, makasih udah mampir
rahmadisrijanto
Oktober 12th, 2008 pada 11:32
hmm,
terkesan dengan renungannya…
kadang kita ngga sadar dengan yang kita miliki,
sebelum kita kehilangannya…
halah…jadi ikut sedih juga….*nampar diri sendiri*
Sarah : Iya bener jg tuch, kadang mmg Qta g sadar dgn yg Qta miliki, dasar manusia g ada puas2nya kali y…Insya Allah, aQ masih menysukuri nikmat aja….jgn ikutan sedih dounk, bisa makin sedih jg nich…hehe…dr mn aja mas? Baru muncul y…
Dalila Sadida
Oktober 12th, 2008 pada 12:59
Kemiskinan mengajarkan tentang kedisplinan yang lebih tangguh dari yang bisa Qta bayangkan, kemiskinan mengajarkan tentang kekerasan yang kadang baik untuk Qta.>> ah… setuju banget!!
Sarah : Hohoho…setuju jg togh…ehm…sisa praktiknya aj belom…*belum apa2, udah grogi ngebayanginnya*
ChaL
Oktober 12th, 2008 pada 14:59
hidup adalah perbuatan…SB wanna be…halah
Sarah : Betull chal, btw, SB ntuh sp y?
s H a
Oktober 12th, 2008 pada 16:40
kalo pun gg pernah ngalami yang nama’a susah, bukan gg mungkin kita bisa concern sama hal” tentang kesusahan . yang perlu dilakukan adalah membuang jauh” sikap indifferent pada apa yang ada di sekitar kita . begitu menurut saia. . .
Sarah : Otu bener jg, aQ pun sering kali berusaha untuk concern ttg hal2 yg berbau kesusahan. Tp entah mengapa, ketegasan yg Qta butuhkan pun gampang sekali ilang seiring dgn berllunya cocern itu sendiri. aQ mikir harusnya keprihatinan dan concern itu berjangka panjang efeknya, hingga membuat aQ bener2 bisa belajar ttg hal itu. Rasanya g afdol klo bener2 bukan Qta yg masuk ke tengah2 suasana different itu sendiri. Karena kenyataan yg terjadi adalah, setiap org2 bener2 berbeda…Tapi, makasih udah diingatkan lagi ya,..
Menik
Oktober 12th, 2008 pada 22:58
kemiskinan yang dijalani dengan keikhlasan biasanya akan menjadikan seseorang tumbuh menjadi kuat.
Tapi yang saya lihat sekarang kok malah banyak yang malas ? semakin banyak pengemis ? padahal saat kita ajak mereka untuk bekerja, dengan kondisi fisik mereka yang masih teramat kuat, kok mereka ga mau ?
duh.. tanya kenapa ?
Sarah : Itu dalam permasalah yg berbeda kali y mbak…^_^ tapi memang harusnya itu juga menjadi pertimbangan yang layak untukQ y… Beberapa orang memang tak sama meski berada dalam situasi dan nasib yang sama…org2 yg berada dalam kondisi susah tapi tak melakukan perubahan positif untuk dirinya sendiri, mungkin takkan pernah bisa mencapai rasa nikmat yang hendak aQ dan Qta cari itu…Naudzu billaminzdalik
troyzen
Oktober 13th, 2008 pada 01:31
terkadang miskin itu mengajarkan kita ttg sesuatu yg positif namun tak dapat di hindari mengarahkan jg ke sesuatu yg negatif….
kemiskinan mengajarkan kita utk dapat survive dlm hidup ….
kekayan lebih mengarah keserakahan..namun terkadang kekayaan jg mengarahkan utk sstu yg lebih arif bagi individu yg bijaksana…
semua hidup harus dijalani…tak selamanya kita kaya dan tak selamanya kita miskin…
kaya harta bukan berarti kaya akan hati…miskin harta bisa jadi kaya akan hati…selamat datang di dunia nyata…pandang dunia ini dgn berbagai sudut pandang…”manusia tidak dilahirkan utk jadi pecundang akan tetapi utk jadi seorang pejuang dlm hidupnya..”
Sarah : Perbedaan nasib itu terkadang membentuk pola dan kebiasaan hidup. aQ hanya ingin mencoba untuk menerapkan hal itu. Andai aQ bisa dikatakan serakah, aQ minta memiliki kekayaan yang bergelimang hati dan perilaku yang baik, semua orang terlahir menjadi seorang pejuang, tapi tak semua bisa memenangkannya…Benar adanya sudut yg berbeda dan beragam untuk menafsirkan suatu kehidupan. aQ masih perlu banyak belajar terutama untuk mengekspresikan apa yang Qpikir, apa yang Qrasa. Jadi, Nice Comment, terima kasih banyak say…
zoel chaniago
Oktober 13th, 2008 pada 03:47
yupp saya juga pernah ngalami nasib yg kurang beruntung,, ampe makan pas pasan githu!! tapi alhamdulillah bgt sekarg
Sarah : Alhamdulillah klo gitu mas. Mudah2an banyak org yg bisa belajar, menghargai dan merubah nasibnya menjadi lebih baik…amin
cenya95
Oktober 13th, 2008 pada 05:46
suatu pembelajaran dimulai dari bawah, kalo dari atas terus jatuh, sakitnya bukan kepayang…
Sarah : Yup..yup..ya iyyalllh, klo jatuh dr atas pasti skt bgt.. makasih y udah mampir
Rizal
Oktober 13th, 2008 pada 06:02
Kalau diblog ini dibolehkan juga untuk menyampaikan hal yang mungkin sedikit berbeda, saya hanya ingin menyampaikan ;’saya sedikit tidak setuju tentang ‘perbedaan nasib’ atau mungkin simple nya.. nasib lah yang menjadikan orang itu miskin atau kaya.’ Dengan ‘seseorang’ terlahir didalam lingkungan orang kaya ataukah dilingkungan orang miskin, hal ini belum bisa membuktikan bahwa nasib dari masing2 sudah jelas, lahir dikeluarga kaya pasti beruntung (jadi orang kaya), dan lahir di keluarga miskin dah jelas nasibnya, tidak beruntung.
Saya tidak setuju, lantaran Allah Ta’ala begitu pemurah. Begitu kita lahir kedunia ini, tidak peduli dimanapun kita lahir, dilingkungan apapun, dibelahan dunia manapun, Allah memberikan modal yang sama kepada kita, yakni otak (yang baik kapasitas, jumlah sel, sistem lymbik, dll.nya sama percis).
Saya pikir, hal yang membedakan antara orang kaya dan orang miskin tidak terletak pada faktor beruntung atau tidaknya dia, melainkan kemauanya untuk berhasil, bekerja keras, tujuan hidup yang jelas, dan memanfaatkan dengan optimal apa yang di modalkan Allah Ta’ala kepada dirinya.
Dunia mencatat banyak sekali tokoh – tokoh besar yang lahirnya tidak dari keluarga kaya, hebat, atau terpandang, tapi dalam kenyataanya mampu untuk sukses…
Di Indonesia, kita kenal Andrie Wongso… lahir dari keluarga miskin, hanya bermodalkan tekad… dia sukses menjadi pengusaha, dunia kenal Stevie Wonder, sejak umur 9 tahun matanya buta, tapi hal ini tidak meruntuhkan mental dirinya untuk menjadi seorang musisi/penyanyi top dunia, Bahkan seorang Donald Trump sekalipun, sekalipun lahir dikeluarga berkecukupan, justru tidak mengandalkan harta orang tuanya untuk menjadi salah seorang pengembang terbesar di Amerika saat ini.
Bicara soal disiplin, kadang – orang sukses lah yang memilikinya dibandingkan orang miskin.
Maaf nih, bukan maksud untuk berdebat, hanya saja saya kurang sependapat dengan pernyataan – kaya atau miskin- seseorang itu hanya dikarenakan perbedaan nasib. Terima kasih…
Sarah : Waow..panjang amat mas…hehe…aQ jd terharu bacanya, n kok rasanya jadi lebih mirip artikel postingan y, ketimbang koment…hehe…well, bener yg dikatakan sm mas, perbedaan nasib itu hanya persepsi dari istilah saya sendiri untuk merujuk pada kata ‘perbedaan kehidupan’ yang dialami oleh banyak orang, meski sebenarnya kita tahu bahwa Allah tidak akan membeda-bedakan umatNya, termasuk dari segi kehidupan. Yakin dan percaya bahwa Tuhan sudah memberikan kehidupan yang layak bagi umatNya, tergantung dri bagaimana manusia menyikapi dan mau berusaha untuk merubah sesuatu yg menjadi lebih baik…selebihnya aQ lagi g tahu mo ngomong apa, soalnya, kondisi badan lagi g fit…makasih udah berkunjung ke blogQ..
dondanang
Oktober 13th, 2008 pada 06:04
miskin dan kaya itu ujian. Yang miskin harus berjuang keluar dari kemiskinannya dan yang kaya harus tunduk melihat ke bawah. Saya selalu merasa miskin supaya bisa merakyat. Karena merasa kurang itu lebih baik daripada rasa berlebih. OOT yah ini komen? Hehehe
Sarah : Iya, bener tuch….makasih udah mengingatkan ttg ‘merakyat’ itu…g oot kok komentnya, malah simple tp padat
Ayam Cinta
Oktober 13th, 2008 pada 06:24
Dont b 2 naive..
Kita emang g bs paham sepenuhñ sbelum kita ada dposisi i2.
Tapi sebelum kesana, apa iya kita uda paham bener apa yang ada didepan kita, yg lg kt jalanin. Jangan2, kt mlh jd org yg g bsyukur dg apa yg uda dksh lg.
Sgala sesuatu ada tahapñ, d Qur’an jg dsuruh krjain 1-1 kan?
So, be gratefull sis
+sok wise gn gw y+
Sarah : aQ juga sempet mikir gitu, apa mungkin aQ mmg bisa, tp seseorang yang sangat baik padaQ, mengatakan padaQ untuk percaya sama kemamuan diri, dan percuma ada kemauan tapi g ada usaha…jd Qpikir saat Qta memutuskan untuk memandang kehidupan lain, Qta juga harus percaya dan yakin bahwa Qta bisa mempertanggungjawabkannya dalam sebuah tindakan. Doakan saja semoga aQ mampu dan menjadi bijaksana seperti mas…terima kasih sudah mampir ke nari
adhiyat
Oktober 13th, 2008 pada 06:48
kadang kita lupa akan apa yang sekarang kita miliki. padahal itu bukanlah milik kita. baru kita sadar saat kita kehilangan, semua itu hanyalah titipan tuhan.
Sarah : Yup, semoga semakin banyak manusia yang sadar, bahwa Hidup hanya sesaat, dan semua yang Qta miliki hanyalah sbeuha titipan, hingga Qta bisa menysukuri nikmat….termasuk aQ,,,makasih udah mampir
bonk 181
Oktober 13th, 2008 pada 06:56
aq juga orang miskin nih.tukeran link donk. salam kenal
Sarah : Okey, makasih udah mampir
yakhanu
Oktober 13th, 2008 pada 08:30
miskin kaya adalah hampa , hampa adalah kosong ,kosong adalah tidak berisi, segala sesuatu di dunia fana ini ada lah kosong..
heheh
salam
Sarah : Waow..gitu ya…hehe….jd g tahu dech mo ngmong apa…hehe..makasih udah mampir..salam
tukangobatbersahaja
Oktober 13th, 2008 pada 09:04
belajar itu ga hanya saat berada di bangku sekolah dan kuliah, setiap hari kita harus belajar hal baru. biar wawsan tambah luas
kalio belajar kit abisa berpikir untuk hidup lebih maju sehingga ga ada lagi kebodaohan dan kemiskinan.
Sarah : Andai semua org mau menerapkan cara berfikir seperti ini, dan mau terus belajar mungkin negara Qta nggak bakal terlalu kayak gini y…hnmmm
masDan
Oktober 13th, 2008 pada 09:55
Yang Miskin jangan bersedih, dan jangan Sesali diri,
Yang Kaya jangan Berbangga, Jangan Membusungkan dada ..
Kamaa Qoola Rhoma Irama….
Sarah : Enak tucgh laguna….*goyang2in jempol*
o c H e
Oktober 13th, 2008 pada 11:05
Kita termasuk orang2 yang beruntung bisa belajar dari mereka tanpa mesti jadi seperti mereka..
Tapi,,bukan cuma kemiskinan,,dari kekayaan pun kita bisa belajar banyak.
Sarah : Nice comment, makasih y atas komentnya yg bijak…
Muda Bentara
Oktober 13th, 2008 pada 14:56
miskin itu tantangan ?
Sarah : Mungkin iya..tantangan…
Ordinary Kid
Oktober 13th, 2008 pada 15:19
Setiap orang memang tidak mau menjadi miskin.
Rasulullah saja selalu berdoa agat dijauhkan dari kefakiran..
Syukurilah apa yang Allah berikan kepada kita..
Jadi miskin itu sulit lho..
Klo orang kaya, mau sedekah tinggal ngeluarin sedikit hartanya..
Nah klo orang miskin, mw sedekah, ya harus bersabar.
Bersabar secara teoritis emang gampang, tapi diaplikasiin??
Tapi, kemiskinan memang melahirkan manusia-manusia yang tahan uji.. Biasanya ketika mereka menjadi kaya, mereka akan tetap berusaha bersikap sederhana, tidak bermalas-malasan, dan tidak gampang putus asa.
Miskin harta ga masalah, asal jangan miskin hati ^^
*ngomong seenak jidatnya
Sarah : kemiskinan memang melahirkan manusia-manusia yang tahan uji.. Biasanya ketika mereka menjadi kaya, mereka akan tetap berusaha bersikap sederhana, tidak bermalas-malasan, dan tidak gampang putus asa—-ini yg paling utama…makasih udah mampir y
pincurantujuah
Oktober 13th, 2008 pada 15:39
miskin..kata-kata itu benar-benar melekat di diri saya..tapi saya harap kemiskinan itu bukan berarti kita miskin untuk saling menghargai untuk sesama..mohon kunjungan baliknya &salam kenal..
Sarah : Salam kenal juga, makasih udah mampir…mudah2an bukan miskin hati y..hehe…harap ditunggu knjungan baliknya
ichanx
Oktober 13th, 2008 pada 21:51
gimana yang diatas aja lah
Sarah : Mmm…bener, Qta serahin sama yang diatas juga…
hanggadamai
Oktober 14th, 2008 pada 00:09
kita cukup belajar dr orang yg pernah merasakannya mbak…
jangan sampai hingga harus merasakannya baru belajar…
oiya mohon maaf lahir batin ya mbak sarah..
Sarah : Mohon maaf lahir dan batin juga mas Hangga…
achoey sang khilaf
Oktober 14th, 2008 pada 02:16
Beruntunglah bagi orang miskin yang bersabar
Beruntunglha bagi orang kaya yang bersyukur dengan membrsihkan hartanya lewat zakat, infak dan sodakoh
Sarah : Mantap…bener tuch kak, mudah2an makin banyak org yg sadar akan hal ini
Panda
Oktober 14th, 2008 pada 05:58
waw.. ngena nih , salut !
Sarah : Makasih..makasih…tp apanya yang kena nich?? Hehe…makaish udah mampir
Rizal
Oktober 14th, 2008 pada 06:06
Yang punya Blog ini sepertinya begitu beruntung, memiliki banyak temen – temen luar biasa… salut deh untuk kemampuan si pemilik Blog yang mampu menyentuh sisi terdalam manusia…yakni sifat peduli yang tinggi terhadap sesama… Thanks untuk kunjungan nya ke Blog saya
Sarah : Wah..kayaknya koment ini berlebih bgt dech, pdhl aQ aja baru mulai belajar nulis dan belajar dalam segala hal, jd terharu nich…hehe…makasih udah mampir juga ke blogQ…
goenoeng
Oktober 14th, 2008 pada 06:16
saat seseorang di titik nadir paling rendah, maka saat itu dia bisa menghargai sekecil apapun yang ia punya. entah itu harta, kasih sayang, keluarga, kesehatan….
pada saat kita di ‘atas’, selalu tempatkan hati kita di titik itu, hanya agar tidak lupa.
salam manis, non.
Sarah : Makasih atas komentnya yg bijak….salam manis jg driQ…hehe..makasih udah mampir
thevemo
Oktober 14th, 2008 pada 08:50
kalo semuanyakaya..siapa yang mau jadimiskin nya?
Sarah : aQ mau mas jd miskin…tp miskin marah, ego, dan kekuasaan…hehehe *jitak pala sendiri*
Ardy Pratama
Oktober 14th, 2008 pada 10:02
Miskin = belajar
Bisa jdi bnar..
Orng mskin pntang ptus asa,
orng mskin ulet dan pkrja kras,
orng mskin gak mnja,
orng mskin gak suka berleha2,
orng mskin sllu mnkmati stiap rzeki yg mreka trima,
orng mskin tdak bnyk mnuntut,
orng mskin sllu brsyukur,
orng mskin jrang mngeluh,
orng mskin giat belajar,
orng mskin pnya impian yg bsar,
org mskin rata2 awal dri orng2 sukses…
Mngkin itu pndpat saya..
Sarah : Mm..iya jg ya, rata2 emang gitu, tp asal g lupa bersyukur lagi sama yg di Atas klo udah sukses…makasih udah mampir y..sarannya keren
hendra
Oktober 14th, 2008 pada 17:55
jadi orang miskin harus ga’ boleh menyerah. salam kenal mbak.
Sarah : Itu yg perlu ditangguhkan dr aQ yg lemah ini, g boleh gampang nyerrrahh….salam kenal jga, mkasih udah mampir
kangharis
Oktober 15th, 2008 pada 02:45
aku miskin
dan aku belajar
Sarah : Miskin g miskin, aQ harus banyak belajar, soalnya aQ bego bgt…hehe…makasih udah mampir
chic
Oktober 15th, 2008 pada 04:52
rasanya ga perlu miskin untuk belajar, karena tiap langkah yang kita ambil di setiap keputusan kita buat saya adalah sebuah proses pembelajaran.. bagaimana pun keadaannya..
Sarah : Itu benar, seharusnya semua keadaan yg Qta pnya, bgtupun dgn pilihan Qta harusnya bisa menjadi pemblajarn untuk diri Qta, namun terkadang belajar itu g cukup, klo Qta g berusaha untuk mengalami dan ngerasain apa yang pengen Qta pelajari. Tapi makasih udah diingetin…makaish jg udah mampir ke blogQ ini
gema_yudha
Oktober 15th, 2008 pada 05:36
salam kenal
Sarah : Salam kenal juga, makasih udah mampir
bonk 181
Oktober 15th, 2008 pada 11:49
link aku udah di pasang ya! thank,s ya udah ngasih nasehat buat aku. link kamu juga udah aku pasang. liat aja kalogak percaya. alam kenal ya.
Sarah : Iya, makasih y….nasihat y, pdhl cm bagi2 kata2 aja…hehe..salam kenal
muh iqbal
Oktober 15th, 2008 pada 12:30
salam kenal dari sinjai
manipi.wordpress.com
Sarah : Weh, tawwa dr Sinjai…apa kabar blogger sinjai….tungguQ di’ kunjungan balikQ ke sana..mariQ, makasih sudah meQ singgah disini kdounk
timur matahari
Oktober 15th, 2008 pada 17:55
salam
singgah sejenak
Sarah : Salam juga, mkasih udah mau singgah sebentar..
agunk agriza
Oktober 16th, 2008 pada 10:15
andre wungsu.
seorang kaya yg terkenal.
dulu miskinnnnnn bangetttt…
cuma modal tampang dan semangat
Sarah : Itu rezeki dari Allah SWT yang g pntas untuk disyukuri dan diusahakan, knp nggak klo mmg ada jalan….
ciwir
Oktober 16th, 2008 pada 14:06
artikelnya keren…
Sarah : Terima kasih….makasih juga udah mampir
fantasyforever
November 12th, 2008 pada 23:05
Miskin itu belajar? Harus!
Saya miskin makanya belajar.
Salam kenal.
Sarah : Hehe..iya, sy jg hrs banyak belajaarrrrr….makasih udah berkunjung ke blog saya. Salam kenal juga
kukun
Desember 1st, 2010 pada 18:54
baguuuuss..
hohhhoooo…..
Mihardy Abbas
Juni 17th, 2011 pada 15:24
Saya suka miskin, jika dalam kemiskinan ada ridho Alloh SWT.
Saya suka kaya, jika dalam kekayaan ada ridho Alloh SWT.
Kalau ada ridho dari Alloh SWT, maka hidup ini mudah. Walau orang lain melihat saya miskin, kelihatannya saya susah hidupnya, tetapi jika di dalamnya ada ridho Illahi, hidup jadi enak. Yang merasakan hidup ini saya sendiri.
Untuk itu dekati Yang Maha Ghoib, dekati yang Maha Kaya, dekati yang Maha Punya, dekati yang Maha Pemberi Rezeki, maka rezeki kita tidak akan ada masalah lagi.
Sebagaimana Sarah yang tidak sendiri, karena menurut saya, Sarah bersama yang Maha Kuat. Siapakah itu ? Sang Kholiq, jawabannya.
Mihardy Abbas
Juni 17th, 2011 pada 15:56
Mengapa kita mengukur status seseorang dengan harta ? Dengan pangkat ? Dengan jabatan ? Dengan istri yang cantik atau suami yang ganteng ?
Alloh SWT aja kaga mengukur hamba – NYA dengan itu semua. Jadi alangkah sia – sia nya kita, jika membuat barometer dengan alat ukur yang tidak sesuai dengan yang menciptakan alam ini.
Menurut saya, janganlah kita membuat dikotomi dengan perspektif harta atau pangkat atau jabatan.
Buatlah alat ukur yang disenangi oleh yang menjadikan seseorang itu kaya, atau yang menjadikan seseorang itu miskin. Kaya miskin bukan di tangan kita manusia. Kaya miskin sudah ada ketentuannya.
Orang kaya, mempertahankan kekayaannya. Ya wajar.
Orang miskin, berusaha agar hidupnya jadi enak. Ya wajar.
Tetapi jika usahanya orang kaya atau usahanya orang miskin, membuat jauh dari yang Maha Kuasa, alangkah sia – sia nya kehidupan yang sementara ini.