Aku…katarak (2)

Finally, harusnya pertengahan tahun 2019 kemarin, saya memulai semua kembali dari awal. Pemeriksaan dan pengobatan hingga operasi katarak. Sebelum akhirnya, semua itu menjadi omong kosong.. pandemic covid-19 melanda dunia… rumah sakit-rumah sakit terutama RS Wahidin Sudirohusodo Makassar menjadi tempat yang paling tidak ingin kita datangi. RS Wahidin menjadi salah satu RS resmi rujukan covid-19, bahkan waktu itu, seluruh armada ojek online tidak diperkenankan mengambil dan mengantar penumpang ke sana. Serem cuy..

Iklan

Aku…katarak?

Umurku masih kepala 3 (tiga).. whaaatt, “masih”? huhuu.. nggak tahu, mo seneng apa sedih.. wkwk. Sejak kecil, mmm.mugkin sejak SD (Sekolah Dasar) saya sudah mengenakan kacamata minus 1 dengan silinder sekian koma.. sejak itu, minus mataku terus memburuk. Saya ingat banget, terkadang saya tidak bisa ikut bermain dengan teman-teman tetangga jika hari sudah memasuki petang menuju malam. Asseeelii, waktu itu main hide and seek, saya cuma lari-lari geje.. sedikit frustasi karena nggak bisa menemukan kawan dan lawan… bukan hanya ketika bermain, di sekolah saya sering tidak pedulian dan tidak memahami pelajaran sekolah, karena kesulitan melihat papan tulis, jadi ketika guru menerangkan, saya sibuk menggambari buku tulis saya…. orang tua memahami, ada sesuatu yang salah dengan diriku, mereka juga melihat saya menonton TV terlalu dekat atau ketika membaca buku. Mama membawa saya ke optik, kacamata minus pantat botol bertengger di hidung saya yang minimlis, berat sering jatuh. Entah sudah berapa kacamata saya yang rusak, patah dan hilang, saya juga malu karena minusnya yang tak biasa. Mugkin teman-teman saya mengenali saya sebagai “Sarah yang kacmatanya tebel pantat botol itu”. Suatu ketika kesekian kalinya, optik dan rumah sakit negeri dekat rumah angkat tangan, give up… mereka tidak lagi bisa megukur minus dan silinder ku yang terus bertambah hingga minus 6-7 dengan silinder 2-3. Atas saran doter di RS Haji Makassar, saya dirujuk ke RS Wahidin Sudirohusodo yang terkenal sebagai RS Negeri dengan peralatan paling canggih dan lengkap se-Sulawesi. Berdua saja dengan Mama, kami menunggu cukup lama, hingga tiba giliranku, saya ingat jejal peraalatan pengukur mata di sana memang cukup banyak dan hampir semuanya saya gunakan…. Mulai dari ukur lensa otomatis yang didalamnya disuruh ngeliat balon udara hingga melihat kincir angin lalu pindah ke alat ke bagian miirp kaki robot yang tulang belulang kabel hitam menjulur ke lantai, ada sensasi mata ditiup sampai ke alat yang lumaya tinggi yang diklaim paling canggih kala itu. Minus dan silinder saya ketemu… ternyata minusnya nambah.. jadi 8-9 dengan silinder 4-5, waktu itu sudah usia SMP (Sekolah Menengah Pertama). Bertahan beberapa tahun dengan kacamata tsb, masuk SMA (Sekolah Menengah Atas), minusku tetu bertambah karena ketidakrajinan ku mengenakan kacamata yang menurutku memalukan.. Bertahan cukup lama dengan kacamata minus 10-12 hingga kuliah. Kemana-mana saya suka ngomong minus 5 aja ke teman-teman, soalnya suka risih dengan ekspresi terkejut orang-orang. “Wah!” “What?!” “Astagfirullah”, “Masa weh?”, “Astaga”,”Seriusko?”,”Iyokah?!”

Benar, saya memang terbiasa dengan penglihatan yang segitu-gitu aja, saya terbiasa tidak mengenalli rekan saya dari jarak semeter, saya menghapal cara jalan, suara, cara berpakaian setiap orang yang saya kenali. Semua mata pelajaran dari SMA-Kuliah selalu saya pelajari sendiri, untunglah jaman SMA Google sudah bertahta di bumi Karena itu, prestasi akademik yang dari jaman SD-SMP selalu anjlok dan hanya terbilang stuck di standar rata-rata, tapi semua terkejar di bangku SMA (Sekolah Menengah Atas) menjadi peringkat kelas, juara 1 hingga kuliah tergolong bisa diandelin oleh teman-teman kampus, nilai IPK cenderung tinggi, nggak lagi malu-maluin…. Masuk kerja, saya mengalami tantangan tersediri. Menatap layar laptop terlalu dekat yang sangat membatasi saya, kebiasaan typo dan kebingungan rekan kerja saya yang katanya saya kayak udah mau nyium layar monitor laptop. Akhirya saya mengenakan softlense dengan minus 10. keadaan jadi lebih membaik. saya merasa terselamatkan dengan seftlense. Tapi keribetan softlense mulai sering mengintai..sebagai pekerja lapangan yang terbiasa outdoor dan kerja rodi sampai tengah malam (dulu sempat kerja di Event Organizer) megharuskan saya mengenaakan softlense dalam waktu yang lama. Iritasi akhirnya sudah berkali kali saya alami. Sampai suatu hari, iritasi terparah hingga menggores kornea mata terjadi! Tahun 2018, mau tidak mau, saya dirujuk ke RS Unhas (Universitas Hasanuddin) yang masih ‘satu family’ sama RS Wahidin..dalam hati.. Aduh..kalau sudah sampai di sini, berarti sudah masuk fase parrraaah level akut…saya bisa membayangkan berapa peralatan mata yang akan akhirnya reuni sama saya… Dan ternyata benar… setelah reuni dan kenalan dengan alat baru yang sudah me-regenerasi, akhirnya dokter mata menemukan fakta terbaru.. ada katarak! Kaget? Tentu saja.. semakin shock pas dokter bilang.. “ini jenis katarak bawaan..katarak yang sudah ada sejak kamu baru lahir”….sedih… tapi ya sudahlah.. dokter juga menjelaskan, ini-lah salah satu alasan mengapa sulit menentukan minus dan silinder ku selama ini bahkan sejak kecil. Jadi, siapa bilang katarak hanya muncul saat usia lanjut? No..no... silahkan simak penjelasan lebih detail tentang katarak yang bisa muncul saat usia bayi di sini. Jadi-lah hari hari saya hampir 3 miunggu bergelut di RS Unhas untuk menyembuhkan iritasi softlense dan luka di kornea terlebih dahulu baru akhirnya operasi katarak bisa dilakukan. Sebagai salah satu RS terbesar dan terlengkap, tidak heran jumlah pasiennya membludak setiap hari dari pagi hingga bahkan malam hari. Saya jadi tidak enakan sama atasan di tempat kerja terakhir, karena ada kalanya seharian menghabiskan waktu di RS Unhas.

Sampai suatu hari, masalah perihal mata saya memasuki babak baru. Iritasi dan luka akibat penggunaan softlense selesai, katarak sudah diketemukan… tapi.. geometri lensa-ku bikin dokter pusing… bolak balik ke RS Unhas entah berapa alat saya gunakan, sampai ke alat palig muktahir yang hanya bisa digunakan dalam ruang gelap yang sepertinya jarang disentuh manusia-pun akhirnya saya gunakan, saya masih bisa merasakan titik debu dan dinginnya alat tersebut. Sepanjang proses pindah pindah alat, jangan tanya rasa malu ku gimana.. belum lagi ketika dokter silih berganti menyalakan mesin pengukur geometri… entah sudah berapa tetes obat anastesi bola mata diteteskan setiap pengukuran geometri sampai bola mata kesemutan setiap hari selama kunjungan RS. Setelah drama panjang pengukuran geometri, perjalanan saya ternyata masih panjang…

RS Unhas menyatakan, saya harus dirujuk lagi ke RS Wahidin Sudirohusodo, karena lensa ukuran geometri ku tidak tersedia di RS Unhas, itu termasuk ukuran langka dan harus dipesan khusus.. rasanya saya ingin menyerah… rutinitas berminggu-minggu dengan berbagai obat-obatan sebelumya terasa sia-sia dan menyesal karena gara-gara rutinitas itu-lah yang membuat saya berhenti mengASIhi putri saya yang baru berusia 7 bulan. Stress, capek membuat pumping ASIP juga gagal. Saya tidak sanggup memikirkan harus memulai lagi dari awal di RS Wahidin Sudirohusodo, saya juga tidak bisa membayangkan gimana minta ijinnya ke atasan lagi. FYI jarak RS Wahidin dan Unhas itu juga terbilang jauh dari tempat tinggal saya. Akhirnya rasa malas dan ketidaksanggupan saya memulai lagi dari awal itu, membuat pengobatan mata katarak ini stuck. Tapi sebuah keputusan besar karena didorong oleh keluarga harus berobat, akhirnya di tahun 2019, saya resign. Satu-satunya yang membuat saya merasa harus berobat dan memulai dari awal lagi karena putri semata wayangku, terbesit beberapa kali, gimana jadinya jika suatu hari nanti saya nggak bisa lagi memandangi wajah anak saya…

Next saya lanjut di postingan berikut yah.. gimana akhirnya..apakah katarak ini tetap menjadi teman setia saya atau saya justru memulai hidup saya tanpa katarak dan tanpa minus tinggi lagi… hehe…

Najwa

Aku berandai-andai.. apakah tulisan ini akan hilang atau akan tersimpan terus menerus, paling tidak sampai suatu hari nanti Najwa, anak pertama kami bisa membacanya. Mama tak berbakat menjadi vlogger, yangmama tahu hanya-lah blogger nak… Mama berharap tulisan ini dan tulisan-tulisan sebelumnya yang tentangmu akan menjadi semacam time capsule… mungkin ketika mama masih ada ataupun sudah tiada.

Lanjutkan membaca Najwa

I miss u everytime

Finally, setelah sepuluh tahun saya menjadi wanita karir, berpindah pindah dari satu kantor ke kantor lain. Dan Alhamdulillah banyak tempat, banyak kesan, banyak kenalan, banyak ilmu yang telah saya serap. Akhirnya saya tiba di satu titik. ini harus berakhir! Saya telah memilih jalan untuk keluar dari lingkaran “kantoran”, saya tidak tahu apakah ini akan menjadi pilihan sementara atau permanen, atau akan saya sesali… berbulan-bulan setelah kelahiran buah hati saya, saya tak lagi merasakan “esensi harmonis” dalam hati saya dengan dunia kantoran. sudah tidak terhitung lagi berapa ratus detik yang harus saya telan karena merindukan putri kecil saya di rumah. Sedikitpun saya tidak bisa mengelakkan pikiran dan hati saya dari anak semata wayang saya. Saya tidak pernah menyangka akan sejatuh cinta ini kepada anak saya sampai saya rela meninggalkan dunia yang dulu saya cintai dan kagum banget. Saya tidak menyangka bahwa saya akhirnya ingin banget jadi Ibu rumah tangga. Pikiran saya dulu, saya akan terus berkarir sampai punya anak. tapi ternyata tidak… Cinta saya berhenti di anak saya…dan akan terus mengalir untuknya, untuk adik-nya lagi mungkin? Hahaha (I hope so)

Lanjutkan membaca I miss u everytime

being a mom

Sebenarnya sudah lama banget ingin nulis dan ceritain tentang pengalaman aku melahirkan Buah Hatiku tercinta, si N… Ingin banget share, untuk bunda yang lain biar bisa jadi ada  persiapan menghadapi persalinan, terutama bagi yang harus melewati fase persalinan lewat metode Caesar, apalagi kalau ini yang pertama kalinya.. Swear… saya aja waktu mo lahiran, begitu tau harus lewat metode SC, deg-deg-annya minta ampun dan demi mempersiapkan mental, saya memang sempat searching-searching tahapan by tahapan apa yang harus dipersiapkan selain mental (tentu).

Lanjutkan membaca being a mom

Tak Tersisa

Suatu hari selama bermiggu-minggu lamanya, saya duduk terdiam mengamati wajah anak saya yang seakan penuh cahaya. Di antara kelopak mata yang terutup, jejeran bulu mata dan alisnya yang lebat..saya menemukan kedamaian tersendiri. Saya mafhum bahwa inilah cinta sejati… Dan iya, ernyata bukan hanya suami yang merubah saya…tetapi anak saya juga memberikan perubahan besar, penilaian yang besar dan makna yang sangat besar untuk hidup saya.

Lanjutkan membaca Tak Tersisa

my everything

Assalmualaikum Wr Wb

Alhamdulillah.. Masha Allah..Maha Besar Allah dengan segala nikmatNya…

Setiap hari, setiap bangun pagi, saya selalu bersyukur..setiap hari adalah hari yang bahgaia bagi saya… .. Saya memahami bahwa hidup telah berputar, saya memahami metamorphosis kehidupan ini nyata. Saya merasa telah menjadi seorang yang baru.. Saya yang benar-benar tak pernah sendirian… Saya telah terlahir sebagai seorang Ibu dan sebagai seorang Istri.. fabiayyi ala irobbikuma tukadziba (maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan). Sejak hari dimana saya bertemu dengan suami saya, saya mengalami perubahan besar.. sesaat saya menangis sejadi-jadinya, Allah sungguh Maha menyayangi umatNya… tak sekalipun Ia memalingkan wajahNya kepadaku yang penuh dosa… Dia memberiku kesempatan besar yang tak mampu aku ungkapkan dengan kata-kata. Allah tahu benar, bagaimana saya menjalani kehidupanku ditahun tahun sebelumnya..

Lanjutkan membaca my everything

Salah

Usia buah hatiku 32 minggu sudah… Memasuki akhir semester.. Gerakannya lincah… Kadang pula saya merasakan kaki kecilnya diregangkan dan nyaris membuatku tak bisa duduk dengan nyaman…atau suatu waktu tidurku harus menahan geli..karena ‘amukan’ kecilnya seperti menggeliat-geliat… Sebagai seorang Ibu yang merasakan langsung setiap detik gerakannya…saya yakin dia tumbuh sehat…

Beberapa orang nulai menegur perubahan fisikku yang tak signifikan…perutku tak kian membesar layaknya ibu hamil 8 bulan. Kecemasan itu tentu saja membayang-bayangi… Tetapi gerakan anakku sekali lagi meyakinkanku bahwa ia sehat! Sampai kemarin…hari minggu..akhirnya aku dan suami mengunjungi dokter yang biasa memeriksaku..awalnya tentu ketemu suster / perawat terlebih dahulu.. Dipersilahkannya aku naik ke timbangan..ia terkejut..akupun demikian.. Di buku konsul jelas tercatat bulan lalu BB (berat badanku) 70kg.. Sekarang malah hanya 68kg. Awaljya suster tak menyadari..aku yang menyadarinya lebih dulu “68…kok turun??” begitu tanyaku..suster memeriksa kartu kontrol dan mencoba mengajakkua mengukur BB dengan timbangan yang lain sambil berkata “kita coba timbangan yg lain dulu y.. Siapa tau timbangan ini rusak”. Aku mengikutinya…ternyata meskipun sudah pindah timbangan…hasilnya tetap sama..68kg. BB ku turun 2 kg dalam waktu sebulan.

Aku mulai shock… Ku elus perutku pelan dan berkata pada buah hatiku “nak..maafkan mama” hanya itu yang berkali kali ku katakan… “Kamu belum lahir aja..mama sudah g becus” kataku menyalahkan diri sendiri dalam hati. Suamiku pun terlihat sama sedihnya.. Aku mencoba beberapa kali menyeka bulir air mataku dan berusaha berfikir positif.. “Nggak..jangan bersedih dulu..bisa-bisa anakku semakin tak sehat..semakin drop..tunggulah sebentar pemeriksaan dokter”…

Aku dan suami bersabar menunggu sampai akhirnya namaku dipanggil suster untuk masuk ruangan…dokter muda yang cantik itu..segera dengan cekatan menekan bawah perutku..dan mulai menempelkan alat USG.. “Dok…berat badanku turun…dan bolehkah saya melihat anak saya 4D?” kataku lirih dengan sedikit antusias.. Aku bahagia melihat alat USG. Saya yakin semua ibu hamil senang melihat alat itu…karena semacam “video call” dengan si buah hati. Dokter tersenyum dan mengangguk pelam mengiyakan lalu ia mulai memeriksa alat USGnya…

“Bayinya sehat…kita coba cek aliran suplai darahnya y…” sssssrrrrr.. Terdengar seperti desiran air yang mengalir kencang..lalu dokter mengangguk “sekarang kita dengar degup jantungnya”.. Deg deg deg..suara degup jantung yang diperdengarkan dokter seperti membahana.. Lalu ia menunjuk ke layar “suplai darah lancar..degup jantung juga stabil.. Pertanda bagus” katanya.. Aku lega… “Sayang kita nggak bisa scan 4D. Ini mukanya terhalangi plasenta tapi tenang ini bukan sesuatu yang harus dikhawatirkan. Posisinya masih bisa berubah” katanya.. Aku menatap suamiku sekilas.. Aku sedikit kecewa.. “Nah coba liat ini..” kata dokter..aku dam suami menoleh ke layar.. Aku tersenyum.. Memang ada sekelabat bayangan di depan wajah anakku…tapi samar aku bisa melihat bentuk kepalanya.. Melihat matanya..hidungnya..mulutnya.. Kepalanya juga sesekali mengangguk pelan.. Aku sempat melihat tangannya… Rasa rinduku untuk melihatnya di layar USG terobati sudah..meski bukan 4D tapi aku bahagia..sudah melihat sekilas wajahnya.. Tidak terlihat memang akan mirip siapa.. Tapi tidak masalah..

“Dok…berapa beratnya?” tanyaku “karrma BB ku turun” kataku lagi.. Dia lalu berkata “iya yah.. Badanmu turun.. Okeh sebentar saya cek dulu” dia lalu berjalan menuju meja kecilnya dan memeriksa kartu kontrol “iya BB mu turun. Alat bacanya anakmu 7 bulan tapi sebenarnya sedang memasuki 8 bulan. Kamu harus tambah BB mu. Di pemeriksaan sebelumnya HPL mu saya dapatnya dibulan November…tapi di alat bacanya Desember.. Berarti benar ini karena alat bacanya perkembangan janinmu masih 7 bulan padahal sudah memasuki 8 bulan. 2 mimggu lagi kamu datang kembali yah dan pastikan Berat Badanmu sudah naik” pintanya dengan nada bicara yang lumayan cepat kayak kereta api.

Aku lega… Memang ku akui..kesalahanku yang membuat buah hati kami jadi seperti kurang gizi… Tapi selebihnya aku bersyukur dia tetap sehat dan pasti juga tengah berjuang.. Maafkan mama.. Mama janji akan semakin sehat. Nutrisi penting untukmu akan mama serap baik-baik. Maafkan mama nak…

Sungguh…

Cermin

31 minggu sudah umur janinku sekarang… Melewati semester satu yang sedikit ribet dan semester kedua yang menyenangkan tanpa ada rintangan.. Masuk semester ke tiga ternyata penuh cobaan.. Tapi tak mengapa.. Akan kunikmati seluruh prosesnya… Sebagao seorang ibu..sebagai seorang istri..

Ada beberapa masukan dari suadara dan sahabat mengenai adab perilaku kita selama mengandung… Yakni tentu saja tidak membunuh dan menyiksa hewan..nyamuk sekalipun, tidak berlaku kasar, tidak “nakal” dengan laki-laki lain begitupun suami..menghindari hal-hal negatif terhadap perempuan lain. Dan tentu saja memperbanyak ibadah…

Kedua dari terakhir… Yakni tidak neko-neko dengan pasangan yang bukan muhrim. Suatu ketika seorang rekan kerja bertanya padaku “Lu khan pulangnya searah rumah si Ono (laki-laki) tuh..dia naik mobil lho..diturunin aja sama dia”… Aku bukan tidak pernah berfikir tentanh “praktis”nya nebeng ssma Ono. Selain irit budget..saya juga tertolong banget selama hamil ini..karena tidak harus naik motor (ojol) atau angkot yang suka lana banget nyampe rumah..mau naek taxi online..rasanya sayang banget duitnya..tiap hari harus keluar 27-30rb rupiah sekali jalan… Toh, sama Ono sebenarnya bisa sangat membantu dan sebenarnya tidak merepotkan karena rumah ‘sekalian lewat’.. Tapi saya enggan..bukan karena Ono pelit..orangnya baik banget malah… Tapi karena saya teringat suami…

Saya teringat cerita suami saya yang menolak menemani rekannya (perempuan) yang kebetulan mereka sedang dalam perjalanan di sebuah fery untuk dinas. Rekannya memintanya untuk tidur disampingnya..tapi suami saya menolak dan berkata “menghindari fitnah” .. Jujur saya terenyuh dan bertekad akan menjaga adab serupa. Meski saya juga tidak tahu lagi cerita2 yang lainnya. Tapi paling tidak suami saya sedang berinisiatif untuk menghargai dan menghormati hubungan kami. Saya berharap suami saya akan terus begitu. Pun saya akan menjadi cermin baginya. Saya menolak semobil nebeng dengan Ono karena menjaga adab.. Dan mencegah fitnah di lingkungan kerja. Tidak lah masalah bagi saya harus naek angkot 2 kali dan berjalan kaki untuk akhirnya sampai di rumah atau berpanas-panas ria sambil menahan goncangan di perut karena janin yang tendangannya makin liar di atas motor ojol atau ketika ada duit lebih..sesekali akhirnya merasakan kenyamanan di mobil taxi online tapi nggak nyaman di kantong. Semua harus disyukuri. Aku tak ingin banyak mengeluh..biar nanti anakku ini juga bisa kuat..gak pantang menyerah dan belajar menjadi pejuang serta menjaga adab dan norma agamanya.

Aku percaya.. Suami istri adalah sebiaj cermin.. Sedang anak pun demikian.. Jadi penting sekali menjaga adab rumah tangga… Inshaa Allah