Artikel

Opini Kemiskinan

Makassar…Ibu kota Sulawesi Selatan. Perkermbangan pembangunan yang melonjak tajam, volume kendaraan bermotor semakin meningkat seperti halnya peningkatan jumlah pengangguran setiap tahun, kemudian mahasiswa-mahasiswi yang anarkis, tempat-tempat prostistusi semakin mneyeruak, pergaulan hdup bebas semakin merajalela…Ini hanya segelintir permasalahan umum yang kerap kali terjadi di kota-kota besar…Ada yeng memprihantinkan batin saya, selain karena berbagai perkembangan dan kemajuan di berbagai aspek kehidupan masyarakat kota, nilai-nilai budaya dan tradisi semakin menurun makanya yang jsutru di manfaatkan oleh negara lain untuk dikuasai….Dan dibalik semua itu,saya sadar ada kemisikinan yang sangat pelik di tengah-tengah kemajuan sebuah kota, provinsi, negara, atau apapun itu…

Di kota-kota besar, tidak sulit menemukan perbedaan-perbedaan yang mencolok dan dramatis. Menit ini Anda bisa menemukan perempuan dengan gaya yang sangat modis, charming, elegan, bersih dan berpendidikan, tp menit kemudian Anda juga bisa menemukan perempuan dengan gaya yang slenge’an, tidak modis cenderung ‘kampungan’, gaya bahasa yang nyerocos dan berpendidikan biasa-biasa sj (paling tamatan SMP/SD)… Sebuah pemandangan yang sangat mudah ditemui. Kalau Anda ke daerah mungkin perbedaan-perbedaan kecil berdasarkan ‘casing’ tidak terlalu tajam seperti di kota. Yah, itu-lah yang terlihat di kota-kota besar.. Semua bidang, bisa saja maju serentak tp ada satu yang tidak begitu saja bisa maju ke depan….kesejahtaraan…
Pemerataan Pembangunan seolah hanya janji isapan jempol belaka, pemberian tunjangan kepada warga miskin juga tidak merata, pendidikan apalagi….upaya pemberantasan Pengemis dan Anak Jalanan juga sia-sia…Sehingga bentuk kontradiktif taraf hidup di kota-kota besar kian menampakkan diri…kehidupan di kota sungguh teramat banyak memiliki perbedaan yang memilukan…

Berbagai opini baik dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Kota, Daerah, Lembaga Masyarakat, Instansi, Sampai Masyarakat sendiri mengeluarkan statement yang ‘beraneka rupa’ tentang pelik dan kemelut Taraf hidup masyarakat kota terutama bagi Masyarakat dengan tingkat perekonomian Menengah ke bawah…
Salah satunya adalah Dari hasil penelitian kerjasama antara Komite Penanggulangan Kemiskinan dengan Prof.Dr. Mayling Gardiner dan Evelyn Suleeman ( PT. Insan Hitawasana Sejahtera ) menunjukkan bahwa kemiskinan yang terjadi di Indonesia dengan berbagai keragaman yang terkait dengan korelatnya dari berbagai klasifikasi ( kelas ekonomi, jenis dan lokasi tempat tinggal serta jenis kelamin), ditandai oleh keterbatasan, akses dan kesempatan, memiliki arti yang berbeda-beda menurut daerah masing-masing.
Pelaksanaan penelitian diselenggarakan dalam rangka mendukung program penanggulangan kemiskinan tersebut dikoordinasikan melalui kegiatan proyek pengembangan data berbasis lokal dan dilaksanakan pada 8 propinsi di 14 Kabupaten yang tersebar di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Nusa Tenggara. Daerah yang diambil sebagai sampel terpilih antara lain mewakili daerah pantai, daerah dataran tinggi, daerah perdesaan (rural) , daerah perkotaan (urban) , daerah aliran sungai (DAS) seperti di Propinsi Kalimantan Tengan dan daerah beriklim kering seperti di Propinsi Nusa Tenggara Timur. Metoda survey dilakukan dengan wawancara mendalam ( Indepth Interview ), FGD ( Focus groups discussion ) melalui diskusi kelompok terfokus, diskusi kelompok informal dan pengamatan langsung.
Keterbatasan kesempatan untuk mengakses sumber daya yang menjadi faktor penyebab kemiskinan tersebut diatas antara lain meliputi : (1). Sumber daya modal dan asset untuk berusaha, alat transportasi yang dimiliki ( perahu/ pertanian/perkebunan /tambak yang dimiliki, dan (2). Sumber daya manusia / modal manusia yang meliputi pendidikan yang rendah, dan keterbatasan akses terhadap pelayanan sarana dan prasarana kesehatan dan sanitasi.
Penanganan kemiskinan tidak dapat dilakasanakan secara seragam, namun sangat tergantung kepada kondisi daerah masing-masing. Oleh karena itu strategi penanganan penanggulangan kemiskinan di daerah seyogyanya disenergikan dan terintegrasi secara multi sektor dengan dukungan fasiltas dari pemerintah pusat.

Iklan

One thought on “Opini Kemiskinan

  1. kemiskinan merupakan isu kita bersama, kita punya kwajiban memberantas kemiskinan sebelum 2015 sesuai dngan target MDG’s di Indonesia, kalau saja setiap individu mau berpikir dan mmbantu memberantas kemiskinan start dari dirinya terlebih dahulu, efek yang ditimbulkan mungkin akan mewabah seperti virus.

    Sarah : Iya bener, bukankah sesuatu yg besar bermula atau berakar dr hal yg terkecil? Mari mulai dgn yg ada di sekitar Qta aja dulu…n we will change😎

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s