Realita di Balik Angka

Center For Moderate Muslim Indonesia membahas Kemiskinan di Indoneisa : Realita di Balik Angka

Achmad Fedyani Saifuddin ketika dikukuhkan sebagai guru besar dalam bidang antropologi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia (FISIP-UI), Rabu (24/1), di Kampus UI Depok, kuatir akan implikasi serius dampak dari kemiskinan yang bersifat masif di Indonesia, yang dilihat dari perspektif kajian antropologi, disuarakan oleh alam sidang terbuka yang dipimpin Rektor UI Usman Chatib Warsa. Kemiskinan dengan segala atribut dan implikasinya, dalam jangka panjang sangat membahayakan kehidupan berbangsa. Ancaman itu terutama dipicu oleh proses perapuhan sendi-sendi sosial dan budaya yang kronis, yang saat ini justru tengah berlangsung di negeri ini.

Lewat orasi berjudul “Kemiskinan di Indonesia: Realita di Balik Angka”, Fedyani (Kompas, 25/01) mengakui pentingnya angka statistik untuk menunjukkan arah perkembangan dan kemajuan masyarakat secara nasional. Angka-angka statistik tentang kemiskinan, misalnya, bisa menunjukkan perpindahan sejumlah penduduk dari kategori miskin ke tidak miskin; dari miskin ke hampir tidak miskin; tetap miskin; atau dari tidak miskin ke miskin. Akan tetapi, realita apa sesungguhnya di balik angka-angka statistik itu? Proses apa yang terjadi dalam kehidupan nyata? Dengan kata lain, angka-angka statistik itu harus dikonfirmasi kembali kebenarannya dalam tataran empirik. Kajian kemiskinan dari sudut manusia sebagai subyek menjadi penting untuk dilakukan.

Menurut Achmad Fedyani Saifuddin, pada dimensi inilah pendekatan antropologi sosial-budaya memegang peranan penting. Terutama untuk menjelaskan dan memberikan pemahaman mengenai proses dari hari ke hari yang sebenarnya terjadi dalam masyarakat. Berangkat dari kajian-kajian antropologi yang menggunakan pendekatan proses, Fedyani menemukan kenyataan, begitu beragam strategi dan kiat-kiat penduduk miskin—baik di pedesaan maupun di perkotaan—dalam memenuhi kebutuhan mereka.

Ada empat pola temuan yang dikemukakannya, mulai dari sebanyak mungkin anggota rumah tangga dikerahkan untuk memperoleh penghasilan tambahan, melakukan aneka pekerjaan pada waktu yang sama, memperluas akses untuk meminjam dan mencicil, hingga upaya membuat dan memelihara jaringan sosial. Realitas tersebut menimbulkan beberapa persoalan, yang mungkin tidak terbaca kalau kita semata-mata mengandalkan angka-angka statistic. Realitas itu, misalnya, terbaca pada kelompok pegawai golongan bawah-menengah yang tidak pernah masuk kategori miskin. Untuk menjaga citra “tidak miskin”, lahir kepiawaian individu/kelompok dalam mengembangkan siasat dan teknik untuk memperoleh penghasilan tambahan.

Siasat dan teknik-teknik tersebut umumnya menggerogoti aturan dan nilai-nilai budaya kita yang seharusnya dijunjung tinggi. Disiplin kerja merosot, profesionalisme menjauh, sementara praktik nepotisme dan suap-menyuap justru meningkat. Budaya instan dan mental menerabas pun kian berkembang. Kenyataan ini tidak terbaca oleh angka-angka statistik.

Ahmad Syafii Maarif dalam Bersaksi Ditengah Badai (2004) mengingatkan, hendaknya manusia Indonesia memulai untuk bersikap jujur terhadap diri sendiri, mengakui borok-borok yang menempel pada diri sendiri, dan jangan pernah menjual kebohongan di mana-mana. Usaha untuk membenahi diri dimulai dari diri sendiri bukan tidak mungkin dilakukan.

Sikap mementingkan diri sendiri, ketamakan, kerakusan, penindasan, dan kecongkakan adalah sikap-sikap yang tidak alamiah, artifisal, dan tak harmonis bagi keinginan untuk menumbuhkan kehidupan sosial yang berimbang dan sehat. Nilai-nilai kebatilan yang merusak naluri kemanusiaan akan memperburuk dan mematikan pikiran dan hati manusia, seperti angin topan dan kekeringan yang melanda tanah subur, di dalamnya tak akan ada pertumbuhan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s