Sarah · Simple Word · Uncategorized

Nanda

Nanda…satu-satunya adik perempuanku. Lahir 5 tahun yang lalu di bulan November. Di tengah prerekonomian keluargaku yang sedang surut, jauh dari kehidupan yang biasa kami jalani sebagai keluarga menengah atas. Ketika Nanda masih berada dalam janin, ketabahan dan kekuatan di dalam rumahku sedang diuji Allah SWT. Tidak ada liburan, tidak ada baju baru di hari raya seperti tahun-tahun sebelumnya, tidak ada mobil pribadi, bahkan sepeda pribadi, tidak ada canda dan tawa riuh di restoran-restoran atau Mall seperti dulu. Ayah selalu pulang malam dari salah satu kantor Pegawai Negeri. Pada hari libur ia akan pergi sebagai seorang dosen dan guru di tempat kursus dan universitas-universitas. Pekerjaan itu ia lakukan untuk sebagai tambahan selain UMP (Upah Minimal PegawaI) Peg. Negeri yang dia dapatkan. Berhenti-lah aku dari dunia bodoh sebagai murid Sekolah yang cuma bisa bersenang-senang dan keluyuran tidak jelas….sebab, aku sadar bila suatu hari nanti, keluargaku dikatakan sebagai keluarga bermasalah maka, biang kerok dari masalah –masalah yang akan datang itu adalah AKU…Sejak itu semua kehidupanku berubah. Tidak ada lagi kesenangan konyol khas anak muda yang mo di kate gaul….


Tahun itu Ayahku dikianati sahabat sendiri, ditipu bahkan di fitnah kemudian ditunjuki oleh seorang Polisi keparat yang tidak tahu malu! Semuanya adalah sekelebat masalah di waktu Nanda belum lahir.
Dan ketika Nanda lahir, persoalan ekonomi belum berhenti sampai disitu. Pengeluaran baru untuk si kecil ternyata menjadi tambahan pengeluaran yang berat. Tapi Ayah Ibuku adalah orang tua yang luar biasa….
Umur Nanda bontot, memasuki usia 1 tahun. Pelan keadaan berangsur membaik, meski belum bisa dikatakan pulih dari keadaan ekonomi yang jongkok.
Keadaan di kantor tempat Ayahku bekerja mulai diberi pencerahan. Sedikit demi sedikit segala fitnah yang pernah di hujat ke Ayahku mulai terkuak kebenaran. Ayahku tidak bersalah. Ibu, Kakakku, Aku, Adikku adalah tempatnya untuk menenangkan dirinya sebab, hanya kami yang percaya. Berkat kesabaran beliau, pekerjaan di kantor dan pekerjaan lainnya mulai menunjukkan hasil yang cukup, setidaknya bisa memberi Nanda asupan susu yang berkaulitas baik dan tidak pernah bolong2 emmberinya susu, kontrol ke R.S untuk vaksin dan imunisasi. Ada baju-baju lucu untuk Nanda kecil….Meski masih sangat pas-pas-an, Kakakku bisa melanjutkan kuliahnya setelah tammat SMU tahun itu…
Di usia 2 tahunnya Nanda, Ayah sudah memperolah kembali kehormatan di mata karyawan 100% lengkap dengan jabatannya yang sama seperti jabatannya dulu sebelum perekonomian keluarga terpuruk.. Kami bisa merayakan kecil-kecilan ulang tahun Nanda bersama sanak family…Dan yang paling membawa berkah adalah Ayah di pindah tugaskan ke Jakarta, itu berarti jabatannya semakin baik…..dan ternyata hal itu menjadi batu loncatan yang lebih baik lagi, beliau dipindah tugaskan lagi di Kalimantan dengan posisi yang sangat baik di kantornya. Waktu itu hingga kini ia masih sangat dihormati orang…
Bulan November 2005, Nanda berulang tahun yang ke-3. Semuanya semakin membaik…Aku bisa melanjutkan studyku di Sekolah Tinggi Manajemen Informssi terkemuka di Makassar yang biaya kuliahnya tidak murah…. Meski tidak lagi tinggal bersama orang tuaku dan 2 orang adikku termasuk Nanda. Aku hanya tinggal bersama kakakku stau-satunya di rumah kami. Transfer rekening alhamdulillah lancar. Hampir tidak pernah ada kendala. Semua tercukupi dengan baik…. Semua berjalan sangat harmonis.
Dan di tahun yang sama, tiap kali aku melangkah keluar dan melihat anak-naka kecil di pinggiranibu kota dengan kaki telanjang sambil berlari-lari di sepannjang pantai losari, aku teringat Nanda kecil yang entah secara kebetulan atau tidak, telah memberi banyak arti dalam hidupku. Kudengar suara Nanda dari handphoneku, sambil memandangi seorang bocah perempuan dengan pakaian compang-camping menangis karena permennya direbut oleh 2 orang bocah laki-laki ingusan yang berpenampilan sama dekilnya. Betapa mirisnya kehidupan itu berjalan.
Nanda, laji macan cokyat yang dibeyikan mama...” Begitu suara Nanda terdengar di telingaku…
Seperti mendengar suara Nanda juga, bocah perempuan yang bila diperhatikan sebenarnya sebaya dengan Nanda melirik ke arahku. Dengan terisak-isak, dia berhenti menangis dan duduk di pagar taman batu, menghadap ke arahku…
Bagi dounk Nanda….” Ujarku lembut
Nggak mo ah!” Seru Nanda…
Nanda, harus jadi anak baik yang senang membantu dan berbagi dengan orang lain ya...” Kataku sambil masih bertatapan dengan bocah perempuan itu..
”Iyyaaa” Jawab Nanda polos..
Hampir umur 4 tahun, Nandaku sayang sudah kembali ke Makassar bersama kedua orangtuaku dan adek cowokku yang rese’. ’Tampilan’ Nanda benar-benar memukau. Badannya sehat sekali, rambutnya bercahaya, pakaian-pakaiannya luar biasa, sepatunya alamak kerreennn…mainannya komplit. Mulai dari barbie, sepeda, skuter, kemah camping, karaoke, laptop mungil untuk belajar bahasa inggris, dan sebagainya….
Angka yang dikeluarkan orang tuaku untuk anak bontot memang sungguh diluar dugaan… Kemudian, Nanda berlari berusaha berbaur dengan anak-anak tetangga. Terlihat perbedaan mencolok, dari ukuran fisik sampai penampilan…Nanda beruntung dan yang paling membahagiakanku, Nanda bukan bocah yang memilih teman dalam bergaul. Seperti ketika kami berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan, tiba-tiba di tengah jalan Nanda, melepaskan isapan jempolnya dan menunjuk ke seorang bocah tukang bersih kaca mobil, kemudian menunjuk lagi ke bocah penjaja koran, dan jari telnjuknya berakhir di sosok dua bocah yang sedang bertengkar atau bercanda. Lalu berkatalah ia,
Kenapa mereka semua ada di jalanan?
Aku tersenyum tipis dan menatap Nanda. Nanda balik menatapku, lalu aku berkata……….

Kini Nanda berumur 5 tahun, dan janjiku bersama Nanda sudah sukses sebagian….

5 thoughts on “Nanda

  1. semua ada masanya….(btul di’..roda kehidupan itu berputar..kadang diatas, kadang dibawaH…)

    …mesti banyak bersyukur artinya kaLo kehidupanmu kayak gitu…
    semuanya….aman, damai sentosa,…..

    salam ma Nanda…🙂

  2. @dhida,
    Iya gitu dech, hidup mmg aneh ya…

    ssh diungkapkan dgn kata2 kayakna. Hmm…

    Salam balik dr Nanda y…🙂

  3. aku terhenyak dengan postinganmu kali ini…aku pun merasakannya,,,tapi aku orang yang gengsi menceritakan seperti masalah2ku,,kesedihanku tak bisa tergambarkan lewat curhatan, jadilah aku membikin cerpen noda ungu,,,udah baca lom?
    satu pelajaran yang ku dapat dari setiap masalah adalah diriku menjadi semakin kuat dan Allah telah membuktikan sifat2nya di depanku,,,agar aku percaya tentang Allah dan bagaimana menjalani hidup ini,,,,

    TETAP KUAT,,,BIARKAN KESULITAN MENGHAPUS DOSA2 KITA, AMIN

  4. @Yella,
    agak berat juga memang waktu aQ nekat milih posting sesuatu yg menurutQ agak pribadi kayak gini…hehe…tapi setelah Qpikir2, apa untungnya aQ nyimpan malu? Justru kyknya aQ hatus bangga, sebab keluargaQ bisa melewati itu semua itu, dan umur Nanda dari tahun ke tahun menjadi parameter yg pas… Hehe…Wahhh….cerPen y Mbak (blm baca) harus ke blognya mbak Yella nech….mo baca ah..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s