Artikel · Simple Word

Nenek Air (In Memoriam)

Di kompleks perumahanku, sesuai perkembangan zaman dan kebutuhan maka hampir seluruh rumah di perumahan tsb sudah terpasang pipa Air Periusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Beberapa rumah yang masih ‘bertahan’ untuk tidak memasang PDAM hanya sisa beberapa, termasuk rumahku.
DSC01772

Lalu bagaimana aku dan keluargaku serta kepala keluarga lain yang tidak memasang PDAM di rumah??? Adalah seorang laki-laki tua yang tubunya kurus kering, tidak pernah mengenakan sandal di atas aspal jalan, memakain topi lusuh, yah dia adalah seorang Kakek yang setiap harinya menarik gerobak berisi beberapa jirgen air dari PDAM jauh di belakang kompleks perumahan, dan oleh masyarakat di perumahan kami menyebutnya Nenek Air. (Okey, jangan bertanya tentang Kakek2 yang malah dipanggil Nenek karena sy jg g tau).Rumahku dan beberapa rumah lain memilih untuk tidak memasang PDAM, demi beliau. Semata-mata agar beliau tetap memiliki penghasilan dari menarik air.

Hebatnya, beliau menarik gerobak sederhana itu tanpa mengunakan sandal, bayangkan kalau beliau harus menarik gerobak di siang hari dan bolak-balik dari tempat pengambilan air di belakang peruamahan ke rumah-rumah yang tidak memasang pipa PDAM. Tak terbayangkan tubuhnya yang kurus kering, kulitnya yang terbakar matahari akan beban hidup yang dijalaninya. Beliau tidak memiliki seorang anak, dan istri beliau (kalau nggak salah ingat) yang juga seorang pengemis di depan gerbang perumahan kami telah meninggal dunia.

Dulu, aku sering bertanya sendiri, dimana keluarga beliau, mengapa beliau selalu bekerja begitu keras? Yah, beliau hidup seorang diri, bertahan sekuat yang beliau mampu, bahlan di usia yang sudah sangat renta, belau juga masih mengerjakan beberapa pekerjaan yang diminta oleh para wagra,s eperti mencabuti rumput liar di sekitar selokan dan halaman rumah. Dan dibayar ‘ala kadarnya’.

Di rumahku, setiap kali beliau sudah mengisi penuh bak air, aku dan orang di rumah tidak pernah lupa memberinya air minum, kadang malah memberinya sandal tapi lagi-lagi beliau tak mengenakannya, simple, beliau tidak terbiasa menggunakan sandal. Kadang pula oleh tetangga, beliau diberi koran-koran bekas untuk dijual.

Dulu, setiap sepulang sekolah, aku selalu mendapati beliau duduk termenung di salah satu tempat duduk batu, kadang pula beliau hanya berjalan terlunta-lunta tanpa membawa gerobak mencari rumah mana yang membutuhkan tenaga beliau. Dan tatapannya selalu kosong, kadang ia tersenyum kecil padaku.

Dan sekarang, beliau sudah meninggal dunia.Tidak diketahui persis sebab beliau meninggal. Tapi yang pasti kepergian beliau masih menyisakan jejak-jejak kakinya yang tidak pernah mengenakan sandal, meninggalkan percik-percik air yang setiap hari dibawanya, dan rumput-rumput liar yang makin subur di tiap selokan rumah warga.

Kini beliau sudah tidak ada, di rumahku dan beberapa rumah sudah tidak memiliki alasan lagi untuk tidak memasang PDAM.

Iklan

23 thoughts on “Nenek Air (In Memoriam)

  1. saya turut berduka akan kepergian sang nenek penjual air, semoga beliau diterima disisi Tuhan-nya.

    ceritanya yang mebahasakan sebuah perjuangan, dan pengorbanan

    c:

    salam kenal

  2. menyedihkan juga ceritanya ya mbak. turut berduka. terenyuh saya membacanya. orang kecil yang terkadang sering terlupakan, padahal jasanya teramat besar.

    tulisan yang bagus….

  3. cerita ini mengingatkanku tentang penjual air di rumahku. kurang lebihnya sama, sar.
    kadang kami bingung untuk memasang instalasi pdam, salah satunya dikarenakan oleh mereka yang mengandalkan hidup dari menjual air. namun kebutuhan akan air akhirnya mengalahkan semuanya. solusinya kami memasang pipa pdam, dan mempersilahkan orang itu mengambil dari air kami untuk kemudian dijualnya.

  4. Semua akan kembali kepadaNya, memang banyak sebenarnya jasa2 dari sesorang yang kadang tidak diperhatikan dan dilupakan seperti kakek tersebut.

    Salam….

  5. Mbak Sarahyangtidaksendirilagi….
    waduh…akhirnya nongol juga. Dah aktip gak bilang-2
    Baca artikelnya besok aja ya…
    BW dulu…kangen
    (ada yang marah gak ya?)
    Ntar ditabrak dumptruck lagi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s