Mengontrol Diri

Pagi ini setelah pulang dari menconteng, tepatnya pukul 09.54 WITA, aQ mendengarkan salah satu siaran radio di Makassar (Smart.FM)…temanya adalah mengontrol keinginan dan disiplin dalam diri. aQ menikmati siaran ini untuk setengah jam lebih sambil melayangkan fikiranQ tentang diriQ selama ini. Seseorang di radio ini menyampaikan beberapa hal melalui beberapa cerita…dua diantaranya adalah…

Ada sebuah penelitian yang dilakukan hampir tiap tahun. Peneltian ini dilakukan pada beberapa orang anak yang akan dibagikan permen, tetapi anak2 tersebut harus menunggu sampai 15 menit, baru akhirnya permen itu  boleh dimakan. Anak2 kemudian ditinggalkan beserta permen masing2. Beberapa anak mulai gelisah dan tidak bisa menahan keinginannya untuk menggu sampai 15 menit. Maka, akhirnya beberapa anak memakan permen tanpa menunggu waktu yang ditetapkan. Kemudian anak2 ini diikuti perkembangannya sampai dewasa, dari kesimpulan penelitian itu adalah bahwa anak2 yang bisa menahan dirinya untuk tidak memakan permen sampai waktu yang ditetapkan yakni 15 menit lebih cenderung berhasil dan sukses di masa depan dibandingkan anak2 yang dulunya tidak bisa menahan keinginannya untuk tidak memakan perman sampai waktu yang ditetapkan. Sebab anak2 yang bisa menahan keinginan dan mengontrol dirinya adalah ciri  anak yang lebih bisa mendisiplinkan dirinya, dan keinginannya/hasratnya.

Cerita yang kedua, Ada seorang laki-laki yang ingin badannya di tattoo, untuk itu ia datang ke tempat pembuatan tattoo, kemudian ia melihat2 gambar tattoo, ia tertarik dengan gambar Naga, maka ia memesan agar badannya di tattoo gambar Naga. Si pembuat tattoo kemudian mulai membuat tattoo naga, beberapa menit kemudian, lelaki ini mengeluh karena badannya kesakitan,”Aduh, sakit..ngapain sich?”. Si pembuat tattoo menjawab “saya sedang membuat ekor naga”, dan lelaki ini berkata “udahlah,nggak usah pake ekor”. Si pembuat tattoo kembali melanjutkan pekerjaannya, beberapa menit kemudian, lelaki ini kembali mengeluh lagi “aduh, sakit lagi…sekarang ngapain sich?”, si pembuat tattoo menjawab “saya sedang membuat sayap naga”, lelaki menimpali “nggak usah pake sayap lah”. Pembuat tattoo kembali melanjutkan pekerjaannya, dan untuk yang ketiga kalinya, si lelaki itu mengeluh lagi “Addduuuhh…sakit..ngapain sicccchhh??”, di pembuat tattoo, berkata “saya sedang membuat kaki naga”. Kesal, si lelaki langsung keluar dari ruangan pembuatan tattoo. Dan gambar tattoo-nya tidak lagi seperti Naga, tetapi hanya seperti ular biasa. Kesimpulannya adalah bahwa ada beberapa orang di dunia ini, yang menginginkan sesuatu yang bagus, yang baik tetapi tidak rela berkorban dan hanya setengah-setengah. Akhirnya hasil yang akan didapatkan juga hanya setengah-setengah.

Sebenarnya masih ada lagi beberapa cerita yang menarik yang aku dengar, tetapi ini saja udah bikin aku mikir tentang diriQ sendiri, dan tentang beberapa orang yang kukenal.

Aku memang tidak pandai, dan belum sepenuhnya bisa menerapkan disiplin yang baik, tetapi untuk menahan keinginan dan mengontrol sikap alhamdulillah tidaklah buruk. Aku sering memperdebatkan atau bahkan sering dikritiki dengan kata ‘disiplin’ dalam beberapa hal, terutama dala ‘penegasan’,’penolakan’,dan ‘menghargai diri sendiri’ agar dapat lebih baik untuk diriku sendiri, mengurangi penindasan terhadap diri sendiri.

Akan tetapi, kata disiplin itu sendiri, sebenarnya sudah kuterapkan dalam beberapa hal lain yang bersifat ‘profesionalitas’, atau bisa dinilai ‘kecil’ atau ‘hanya seujung kuku’ bagi orang2 yang disiplinnya lebih besar, lebih kuat, misalnya janjian dengan teman2, mereka berkata “jam 8 kita janjian”. Jam 8 waktu janjian itu dalam kamus pribadiku, adalah waktu yang menunjukkan keharusan bertemu dengan teman2, jadi jam 8 pas, aQ sudah harus ada di tempat tujuan, bukan jam 8 baru berangkat dari rumah. Alhasil, aQ selalu mejadi orang yang akhirnya menunggu…..Untungnya, karena konsisten dengan penerapan kepastian waktu & mengharga waktu, akhirnya teman2 sudah memahami bagaimana membuat perjanjian denganku. Bahkan beberapa teman sudah mebgikuti hal ini…Selain itu, aku juga selalu berusaha menepati janjiku pada teman2 dan keluargaku.

Yang jadi masalahku sekarang adalah, kenapa sekarang aQ seperti kesulitan mengontrol emosi dan rasa disiplin itu sendiri…kenapa aku sekarang gampang marah dan tidak bisa mengendalikan fikiranQ sendiri. Seseorang yang kupanutkan untuk menjadi tombakQ meningkatkan disiplinQ, justru membuatQ semakin emosian, bahkan penurunan psikis karena penolakan dari dalam diri yang membuatku menganggap diriku pembohong, pembual, dan tidak realistis, dan jauh dari disiplin…Aku merasa berbeda dan malah semakin bingung untuk menentukan sikap, dan kesulitan memahami diriku sendiri.

Hal ini maish menjadi misteri bagiQ, tetapi aku tahu mungkin ini salah satu pembelajaran tersendiri dan menjadi resiko terbesar yang harus aku jalani untuk menghadapi perubahan besar, total yang sebelumnya tidak pernah aku alami.
Mari kita mencoba lagi mengontrol, mengoreksi dan mendisiplinkan diri, belajar, berdebat tanpa menghakimi….

Iklan

31 comments on “Mengontrol Diri”

  1. Pencerahan yang bagus nih…

  2. crita nya bagus…
    inspirasi buat yang baca…

    sarah…salam kenal yah..^^

  3. crita nya bagus…
    inspirasi buat yang baca…

    sarah…salam kenal yah..^^

  4. wah kudu mengontrol jiwa juga tu.. 🙂

    link accan kog ga ada to???

  5. ooo ini tip mebuat tao ya ? (pura pura bego… ketahuan gak ya diriku pura pura bego atau emang bego beneran ya?)

  6. nice posting..

    mengandung makna yang dalam..

  7. Wah, ane masih harus banyak belajar nih dari mbak sarah..

  8. Ehem…perubahan drastis setelah semedi beberapa bulan.
    Makin dewasa aja neh mbak yang satu ini
    🙂

  9. cerita apik…. salammm maap baru balas heheheheh …lanjutkan

  10. dua cerita yang inspiratif…
    kontrol diri jangan dinilai pada saat emosi kita sedang stabil atau saat kita beraktivitas rutin sehari-hari.
    penilaian kontrol diri yang valid adalah pada saat kita sedang mengalami masalah berat dan emosi yang sedang tidak stabil.
    salam sukses…

  11. Seandainya saja byk orang semakin sering melakukan apa yg dirimu lakukan mgkn dunia ini adem ayem 🙂

    Salam 🙂
    *pkbr Sarah…:-)

  12. adikku
    kau jangan tergantung sama siapa pun
    terlebih menjadi tak mampu mengendalikan diri
    🙂

  13. malu ketika membaca tulisanmu teman, so maaf ga bisa comment banyak sampe saat ini aku belum bisa disiplin :mrgreen:

    -salam- ^_^

  14. *merenung*,,,ternyata sy masih jauh dari kata disiplin :((

  15. Wah2 cerita yg menarik,blog bagus..
    Lam kenal sarah,kunjungan pertamax,hehe

  16. orang sinting merasa ada banyak pencerahan disini
    semangat pagi, selamat morning!!!

  17. wah dah lama nggak maen kesini nich…
    apakabar makasssarr sayang???

  18. sarah, km rajin update ya….. bnyak inspirasinya….

  19. Baik…!! Nisakan semangat memperbaiki diri dahh… >_<

    Nice, Mbak Sarahh ^^

  20. nice post….

    mengendalikan diri…
    karena tak ada orang lain yang lebih layak dan mampu selain diri sendiri…
    tp hasilnya… pasti akan dinikmati juga oleh yang lain 🙂

  21. Sarah makin dewasa euy..

    Tapi ene sarah yg dulu ntu bukan yah..???

  22. yah memang todak jarang kita lepas kendali dan tidak mampu mengontrol emosi… namun mari kita coba belajar sedikit demi sedikit, hingga nantinya buah kesabaran dapet kita nikmati ya sar…. keren sar.. ^^

  23. moga aja masih ingat sama aku salam kangen sar dari pantai laut selatan maaf aku lagi sibuk solanya di tempatku lagi da raimuna kex se-jateng nich hayo siapa mau datang mampir yahhh

  24. sabar kunci dari kesuksesan

  25. Udah ganti thema baru ne…. sipppp….

  26. Ceilee.. Lagi melankolis nih ye..
    Yang penting tetep SEMANGAT!!

  27. sebuah proses membutuhkan pengorbanan..

  28. Ha.. ha..
    Selamat…
    Kamu kayak saya, selalu menjadi orang yang menunggu setiap kali diajak janjian ketemu dengan orang lain.
    Kalau janjian dengan kamu, mungkin kita tidak perlu saling menunggu, ya??
    (sok disiplin?)

  29. sabar sih boleh
    asal jangan dimanfaatin aja
    kan kesabaran tiap orang berbeda-beda

  30. kesulitan mengontrol emosi dan rasa disiplin itu sendiri… itu sering terjadi kepada siapa saja. termasuk sy sendiri pernah merasakan hal tersebut… solusi menurut saya adalah cari pembimbing dan tempat berbagi atau curhat…. moga2 itu bermanfat

    Download Film gratis


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: