Sarah

Pers = Kontrol Sosial?

Masih heboh dengan huru hara demo mahasiswa atas kenaikan BBM? Apa yang terlintas difikiran kita semua ketika melihat bentrok anatar mahasiswa dan aparat kepolisian? Atau bagaimana mirisnya kita ketika melihat luka-luka akibat senjata tajam yang dilakukan berbagai pihak? Melihat aksi pemukulan kerap mewarnai aksi demo? Kita bisa melihatnya sendiri melalui media elektronik, TELEVISI.

Apa yang kita harapkan ketika melihat tayangam-tayangan itu, sedih, marah, benci? Marah dan miris karena apa, karena kita melihat saudara sebangsa nggak akur atau kemudian berfikir, “ah, orang dari kota A memang kasar sekali, ah masyarakat dari universitas B aksi heroiknya menggelikan” Pernyataan-pernyataan ini bisa saja terjadi, pengalaman, opini akhirnya muncul beruntun di setiap orang. Usut punya usut, opini ini semakin melebar, tidak mengerucut dan membuat isu semakin lebar tak berarah, akibatnya perselisihan, opini dan pencitraan -pun semakin menjadi-jadi.

Saya pribadi menyoroti PERS, darah pers yang mengalir di tubuh saya ini membuat saya prihatin terhadap dunia jurnalistik. Sebagai orang yang tumbuh dari darah dan keringat keluarga yang berprofesi di dunia pers, saya merasa sedih. Bagaimana mungkin, tehknik dasar visualisasi tidak diindahkan, bagaimana mungkin etika profesi jurnalistik cuma tinggal cetakan hitam di atas kertas putih ‘doank’ tanpa penerapan tang tegas sebagaimana mestinya, bagaimana mungkin kontrol sosial pers ternoda begitu saja di mata masyarakat.

Penayangan mahasiswa Makassar di tv-tv swasta, Metro TV dan Tv One seperti membakar truck sebuah minuman soft drink diputar hampir setiap hari ini membuat masyarakat diberi ‘pengalaman’ membentuk paradigma secara berkala, intens dan mempengaruhi setiap penontonnya, dimana peran kontrol sosial pers itu? Akibatnya orang selalu men’judge‘ orang-orang Makassar itu ‘garang’, orang Medan itu ‘Kepala Batu’, orang Ambon itu ‘Sadis’, orang Jawa itu ‘munafik’ dan bla bla bla bla bla… menurut Anda, opini ini terbentuk dari siapa? Tidak perlu saya jawab di sini, saya , kita tidak lagi tahu siapa yang harus kita percaya, termasuk pers sendiri. teringat jelas di kepala saya, tayangan infotainment ‘was-was’ di SCTV, dan semua infotainment di seluruh televisi swasta, ketika di profil selebriti membahas isu demo kenaikan BBM, seorang polisi terluka akibat benda tajam, tiba-tiba ekstrim close-up shoot diarahkan tepat di luka yang masih ‘basah’ itu, tanpa blur, tanpa ba bi bu. Kenyataannya memang begitulah sekarang, aksi-aksi berdarah nyata lainnya tanpa sensor bisa kita temui setiap hari di berbagai tayangan tv-tv swasta.

Sebagai contoh, ketika Tsunami melanda Aceh, kita bisa  dengan jelas menyaksikan mayat-mayat saudara kita terkapar di mana-mana, bandingkan dengan Tsunami yang terjadi di Jepang, pernah melihat gambar mayat ‘berserakan’? Lihat bagaimana masyarakat Jepang, Pers dan Pemerintah Jepang tegas terhadap etika Penyiaran dan sebagai media kontrol sosial bagi masyarakatnya dan dunia. Bagaimana dengan pers di Indonesia? Hari ini adalah 79 tahun Hari Penyiaran Nasional, saya hanya berharap segalanya tidak lagi sekacau ini… Amin…

Iklan

4 thoughts on “Pers = Kontrol Sosial?

  1. wah sepertinya kita memang nggak boleh terlalu percaya apa yang ada di TV. mereka sering menunjukkan apa yang mereka ingin kita pikirkan. kesannya jadi kayak ‘alat pengontrol pikiran’ yak.. 😕

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s