cinta · Inspirasi · puisi

my moon (india banget sih judul postingan ini)

Sumber Gambar

Moon yang dalam bahasa Indonesia-nya adalah bulan. Lalu mengapa saya ingin menulis sesuatu tentang bulan? Pernah suatu hari, saya asedang duduk sendirian di teras rumah, kesendirian itu tiba-tiba menjalarkan sesuatu yang dingin ke seluruh tubuh saya, saya memperbaiki letak duduk saya sambil menengadahkan wajah saya ke langit, saya menyadari sinar bulan malam itu yang menuntun saya menatap bulan tidak kurang dari 5 menit. Kemudian saya menatap ke kanan dan kiri, jalanan begitu sepi di sekitar rumah saya. Pohon-pohon bergerak lembut, angin rupanya hanya membelai segelintir rantingnya. Lampu jalan banyak yang mati, saya kembali menatap bulan. Memperhatikan lekuk bangunan yang ditimpa sinar bulan, seperti siluet yang menebar tinta emas di permukaan dan garis-garis gedung itu. Saya kemudian teringat, seminggu lalu saya pun sempat mengagumi bulan. Di suatu malam ketika sepulang dari event kantor. Saya melalui tanah kosong yang sepi tanpa lampu bantuan cahaya lampu jalan, kedip-kedipan cahaya bulan malam itu, memberi nuansa tersendiri selama perjalanan pulangku waktu itu. Ada rasa khidmat mengalir tulus, susah kujelaskan.

Dan malam ini, kembali saya mendapati diri saya  mengangumi bulan. Saya tahu bulan hanyalah sebongkah batu planet dingin yang tidak mungkin mampu ditempati manusia,  bagi kebanyakan orang, ia bahkan hanyalah bayang-bayang dari matahari. Keindahannya sangat bergantung pada matahari. Tetapi, rupanya ia memiliki aura mencengangkan, ia begitu mudah dicintai daripada teriknya matahari. Jika ia sudah berbentuk bulat penuh, ia membiarkan air di permukaan bumi menjadi surut, padahal pada waktu itulah, ia total membagi cahaya matahari yang ia peroleh pada bumi. Tidak satupun dari logikaku sanggup bermusuhan dengan keindahan bulat penuhnya itu. 

Di malam lain, ia menjadi cekung lancip, kadang seakan menghunus awan yang bergerak, dengan keterbatasan cahayanya, ia sebetulnya sedang tersenyum dengan kedua ujung nya yang lancip itu, ah ia bisa saja menmbuatku mengulum senyum yang telah ia tularkan tanpa ia sadari. Bulan waktu itu malu-malu dan mengingatkan ku seulas tokoh kartu pahlawan wanita (sailor moon) dan logo Masjid (jika ada bintang di tengahnya). Tidakkah dengan kebertasan sesederhana itu, kembali ia menuai nilai keindahan yang misterius, setengah dari cahayanya menjadi tanya, setengahnya ia tunjukkan pada bumi..

Di malam lainpun, ia nampak malu-malu memperlihatkan cahaya yang nyaris bulat, seperti buah apel yang kepalanya habis digigit (logo apple Steve Jobs ini mah) juga tampak menarik. Sisa cahaya membelenggu waktu menjadi seutas kerinduan yang lagi-lagi dengan senonoh menyinggung perasaanku yang ketar-ketir seperti ABG yang baru jatuh cinta. Memalukan sekaligus menyenangkan.

Atau di malam yang lain, ia sama sekali tidak nampak… Atau sering juga ia nampak kabur, tergulung awan kelabu. Saat itulah semua orang akan menyadari….Malam tidak pernah menjadi lebih indah tanpanya

Jika saja kota  tempatku tinggal ini, tidak bermandikan cahaya dari lampu jalan-gedung-lampu laser yang menjulang tinggi dari salah satu mall terbesar di Makassar, maka sudah pasti cahaya bulan terlihat lebih jelas, tetapi bulan memang tidak pernah marah, jikalau dia memang kurang beruntung untuk dikenal dan dihayati manusia bumi yang kerasan tinggal di kota-kota besar yang bermain-main dengan cahaya tidak alami itu. bulan tidak pernah menghitung dan menakar cahaya untuk bumi. Ia tidak membenci Thomas Alfa Edison yang menemukan lampu…yang kemudian menggerus kehidupan menjadi terang. Bagiku bulan seperti lampu sorot di arena pentas, ia pernah menuntunku berjalan di antara kelebat malam. Di anatar sekelbat gelapnya hidup…. Hei Bulan, saya bahkan tidak percaya Neil Amstrong pernah bertandang ke tempatmu…Ia tidak punya alasan lain untuk berusaha menghampiri hidupmu selain penelitian dan agar negaranya diakui, saya percaya, yang mampu benar-benar mendaratkan hidup di permukaanmu adalah jiwamu sendiri.

Cahayanya mendewasakan sesuatu. Sesuatu tentang pengabdian tentang hidup yang positif, ia tidak pernah menggerus atau menyalahkan matahari, iri pada matahari, ia menjadi dirinya sendiri, meski hanya mampu meneruskan cahaya matahari, lalu memantulkannya dengan caranya sendiri, menjadikan malam indah tanpa ia pernah bermaksud memiliki bumi seperti matahari, tanpa ia pernah menyalahi aturan, bahwa ia hanyalah cerita ‘kedua’ setelah matahari. Ia tidak menyalahkan apapun, tidak menyalahkan siapapun. Tidak marah, tidak munafik dan terus saja berpendar, diam-diam ia telah berhasil menyelami malam dan kegelapan dalam hatiku….

Hai, Bulan…. kelak aku berlabuh di tempatmu tanpa peduli bagaimana dingin dan mencekamnya bebatuan di dalam hidupmu…

dna tidak peduli bagaimana wujud dan menjadi apa dirimu, ketika bumi tersungkur menjadi pagi dan siang, meski terang hari ini, diam-diam serpihan kepingan cahaya bulan tetap tersimpan di hatiku.

Besok, ketika aku berangkat mengikuti jejak mahatari pagi dan ikut tergelincir sampai senja, aku tetap merasakan malam di hatiku yang terobati cahayamu…saya tidak ingin kehilanganmu…tidak sekarang, saya tidak cukup siap melalui waktu tanpa mu… Aneh yah, saya baru memahami ini semua, maaf karena baru menemukanmu…Bukankah, kaupun sudah menjelajahi waktu jauh lebh banyak dariku khan? Tidak apa-apa, yang penting bagiku, aku sudah tahu saja.

Hai, aku sedang berdoa padaNya untuk menitipkan diriku menjadi bagian dari dirimu…Kalau bisa malah saya ingin melebur menjadi satu denganmu… Agaknya ini memang berlebihan, khan saya baru saja menemukanmu. Semoga Tuhan segera menjawabnya…

2 thoughts on “my moon (india banget sih judul postingan ini)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s