2 rasa 1 waktu

Sudah pasti seluruh manusia di ujung atau di tengah-tengah dunia ini (apa sih) tahu, hapal rasanya sedih atau bahagia. Kalau sedih yah sedih, kalau bahagia yah bahagia (ya iyyalah). Tapi bagaimana kalau bahagia dan sedih itu datangnya bersamaan? Saya merasakan keduanya di satu waktu ….

Lalu, bagaimana rasanya ditinggalkan oleh seseorang yang sudah sangat melekat dalam hidup kita? Dan bagaimana pula rasanya didatangani oleh seseorang yang baru dikenal, tetapi tiba-tiba menjadi penting, dan tiba-tiba anda menyadari kehadiran orang ini tidak sekedar ‘sementara’…saya merasakannya… Seseorang pergi dan datang dalam hidupku juga secara bersamaan…

Mereka yang pergi dan datang bersamaan ini, tidak benar-benar pergi karena keinginannya untuk pergi, tetapi pergi karena saya. Dan yang datang, juga bukan karena datang begitu saja, tetapi karena datang dan disambut baik oleh saya serta berharap dia bukan sekedar “datang saja”. Kepergian dan kedatangan mereka lah yang membuat saya merasakan yang namanya sedih & bahagia yang kemudian terjadi secara bersamaan.

Oke, saya tidak ingin tulisannya in menjadi sesuatu yang nantinya akan menjadi kesalahpahaman bagi mereka. ^^ (ampuunn)

Pertama, saya akan menjelaskan tentang point sedih dulu yah. Saya sedih karena harus berpisah dengan seseorang yang sudah cukup dekat dan bersama saya selama kurang lebih 4 tahun, dengan cita & mimpi yang sebenarnya sudah sangat dekat menuju ‘target’ kami. Saya sedih, karena perasaan saya terhadapnya tidak lagi seperti dulu, saya sedih karena perasaan itu menguap entah kemana dan karena saya merasa sudah cukup memaksakan diri untuk tetap bersamanya. Saya sedih, merasakan diri sendiri menjadi jahat dan tidak berperasaan, jujur saya merasa bersalah…Dan saya memang pantas disalahkan. Tidak ada pengecualian didalamnya. Saya harus belajar membiasakan diri untuk tidak lagi menjalani rutinitas yang selalu dilakukan bersamanya.

Kedua, point bahagia, Saya tidak tahu, apakah dia datang di waktu yang tepat atau di waktu yang salah. Yang saya tahu, saya bahagia. Apakah rasa bahagia itu harus saya ukur? Harus saya banding-bandingkan, haruskah saya membohongi diri sendiri untuk menepis rasa bahagia itu? Atau apakah saya harus terlalu setia dengan rasa tidak nyamanku bersama orang pertama lalu menutup rasa bahagia itu? Yang saya tahu, bahagia itu sederhana! Jadi, saya memutuskan untuk memberi kesempatan kepada dia yang datang untuk terus membahagiakan saya.

Itu saja.

Iklan

3 thoughts on “2 rasa 1 waktu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s