cinta · Inspirasi · Sarah

Cinta di setiap sarapan pagi

teh

Sumber Gambar

Setiap pagi, Bapak saya, seorang kakak perempuan saya, kakak ipar saya, seorang adik laki-laki saya, seorang adik perempuan saya dan saya sendiri akan disuguhkan rutinitas yang sama setiap pagi… Meja makan yang setengahnya dipenuhi sarapan pagi. Senampan berisi 7 cangkir teh dan atau susu. Meski lebih seringnya berisi teh semua. Cangkir kami semua anggota keluarga, berbeda-beda ukuran, warna dan motif. Bapak saya memiliki cangkir susu / teh berukuran paling besar berwarna putih polos dengan bingkai di setiap sisinya terlihat kokoh dibandingkan cangkir lainnya. Cangkir Mama bentuknya lebih ‘langsing’ karena lebih tinggi di anding cangkir lain, dengan permukaan sisi-sisinya seperti bentuk daun menjuntai, dengan bentuk pegangan yang feminim dan berkelas. Cangkir kakak ipar saya berwana biru tua dengan bentuk gagang terbalik, di bagian dalamnya berwarna krem, cangkir yang seperti itu menandakan pemiliknya juga seorang pecinta kopi, cangkir kakakku bentuknya biasa saja, bergambar foto dirinya bersama rekan-rekan kantornya ketika sedang mengikuti diklat di Jakarta, cangkir adek laki-laki-ku tidak menentu (tidak punya yang khusus) hanya cangkir dirumah, cangkir milik sejuta umat (gimana yah jelasinnya), cangkir adikku yang perempuan berwarna putih dengan foto bergambar dirinya sewaktu masih bayi (sok imut banget nich), sementara cangkirku bentuknya lebih lebar dibandingkan cangkir lainnya (seperti orangnya, paling lebar dibanding anggota keluarga yang lain) dengan foto bergambar diri sendiri khas cewek ABG Alay dengan mayoritas hiasannya berwarna pink. Tidak hanya senampan cangkir-cangkir kami, tetapi ada juga sepiring roti tawar atau kadang-kadang sepiring kue kukus, atau mungkin gorengan, atau semangkuk bubur atau semangkuk nasi goreng atau semangkuk mie instan (kadang-kadang menu sarapannya memang kurang bergizi, tapi yang penting makan!).

Sekilas menu sarapan kami memang biasa saja, tapi jangan salah… disetiap cangkir teh itu ada kisah-nya masing-masing. Sejak bangun sholat subuh, Mama sudah memasak air untuk teh kami (beliau tidak menggunakan air dispenser panas untuk sarapan-yang baginya cukup sakral mungkin dan kurang afdol aja rasanya kalo ngambil airnya dari dispenser), lalu masing-masing cangkir akan diisi gula. Disinilah letak keistimewaannya, Mama mengatur semua cangkir-cangkir berbeda-beda itu, masing-masing cangkir berbeda selera. Bapak 1 setengah sendok gula, Mama 1 sachet gula khusus diabetes, Kakakku dan kakak iparku 2 sendok gula, saya cukup 1 sendok gula (gulanya nggak bener-bener penuh 1 sendok), adek laki-lakiku 3 sendok gula dan adek perempuanku 2 sendok gula dan takaran teh-nya tidak penuh 1 cangkir (cuma Mama yang tahu batasan teh-nya).

Mama seperti memahami apa yang kami sukai dan tidak kami sukai, Mama memahami bagaimana kebutuhan kami berbeda-beda setiap orang, ia membuat pagi kami yang sibuk mempersiapkan segala sesuatunya tapi diredamkan oleh Mama dengan cinta dan perhatiannya yang besar di setiap cangkir teh-nya. Kebanyakan kami yang sudah krasak krusuk di pagi hari dengan santainya langsung menyambar cangkir teh, mencomot roti, mencium pipinya lalu langsung ngeloyor pergi, meninggalkan Mama sendiri di rumah menatap punggung kami lalu membereskan cangkir-cangkir teh yang berantakan, teh-pun kadang tak habis… Saya baru memahami cerita ini, ketika disuatu pagi saya tidak sengaja mencicipi teh dari cangkir adik laki-laki saya, tiba-tiba dahi saya mengerut mencicipi rasa teh yang terlalu manis (really don’t like it), Mama lalu berkata “Tehmu bukan yang itu nak, itu teh Erwin (nama adikku), liat cangkirnya” Saya baru sadar, kalau saya memang salah mengambil cangkir teh, segera saya menukar cangkir teh….meminum teh untuk saya pribadi “Ini baru teh” kataku nyeletuk sekena-nya, rasa teh yang sesuai selera saya, memandang Mama, Mama tertawa. Karena penasaran, saya mencicipi semua teh anggota keluarga dan semua rasanya beda…. Saya melihat ke Mama sekali lagi penuh isyarat  dan ia tersenyum penuh arti membalas semua isyarat mata saya. Sejak hari itu, saya berjanji tidak akan krasak krusuk lagi memberesi diri sendiri yang akan berangkat kantor.

Jadi setiap malam saya sudah mempersiapkan baju, hijab, tas dan sepatu yang akan saya kenakan ke kantor, mempersiapkan apa yang akan saya bawa ke kantor, jadi setiap pagi saya bisa duduk di meja makan dengan tenang dan menghabiskan teh saya setiap pagi, karena rasa cinta Mama ada disetiap uap panas teh saya, setiap butir gula itu Mama mengendapkan doanya yang tak bertepi dan menjalar ke seluruh hidup saya…saya memulai setiap pagi saya dengan cinta Mama….Tidak ada teh se-istimewa ini….

7 thoughts on “Cinta di setiap sarapan pagi

  1. kalau saya jarang tehnya sampai habis, karena gelasnya gede dan saya lebih sering minum banyak kalau sudah siang, bisa di kantor segelas kopi atau waktu istirahat pulang untuk menghabiskan teh yang tertunda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s