cinta · Inspirasi

dunia dalam pelukanNya

Saya memandang nanar tulisan-tulisan dari berbagai pendapat..
.
“Mengucapkan Salam Hari Keagaamaan lain bukanlah bentuk toleransi yang ber aqidah”
Lalu di barisan lain “Adakah gambaran dan tulisan yang jelas dari Allah dan Rasul-Nya yang melarang kita mengucapkan salam kepada pemeluk agama lain?” tulisan-tulisan ini tidak serta merta diterima baik oleh akal dan pikiran seorang manusia lemah seperti saya.
saya masih membaca…

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda ((Barang siapa yang meniru-niru suatu kaum maka ia termasuk dari mereka)).(Al-Bahr Ar-Rooiq Syarh Kanz Ad-Dqooiq, karya Ibnu Nujaim Al-Mishri, beserta Takmilahnya 8/555, Lihat juga Tabyiinul Haqooiq SYarh Kanz Ad-Daqooiq, karya Az-Zaila'i 6/228)"
Yah, itu adalah sepenggal kisah dari Ulama-ulama luar biasa, yang tak jarang menjadi panutan Umat Islam seantero dunia.
Beberapa hadist-pun dibuka-kan di depan mata saya. Hati saya gelisah, gundah gulana.
Mengapa mengucap salam perlu dirisaukan…sedang Islam sendiri adalah agama yang penuh kasih, didalam makna Islam, pengucapan salam banyak dilakukan, dalam kalimat Basmallah…ketika memulai Sholat-mengakhiri Sholat, bepergian-pulang, melewati areal perkuburan dan sebagainya.
Bahkan tak jarang orang-orang awam (yang juga tak ingin mengucapkan salam kepada pemeluk agama lain) malah lebih memilih mengucapkan salam ketika bertandang ke rumah kosong…entah apa yang ada difikirannya…apakah ia yakin jin di dalam rumah itu jin muslim, jika tidak? Atau karena ia berfikir harus menghormati’penunggu’-nya, sementara Allah sudah menjanjikan manusia adalah mahkluk paling mulia di muka bumi ini… mengapa mengucap salam pada yang tak terlihat itu dijunjung daripada sesama manusia?
Tidak ada, ayat-ayat suci al-quran, juga tidak ada tulisan-tulisan indah para ulama di postingan saya, sebab dalam Al-Quran sendiri (mungkin) tidak ada ayat yang jelas-jelas mengutarakan larangan mengucapkan salam, sehingga berbagai dalil dan hadist bermunculan, mencoba menafsirkan ayat-ayat suci dari ALLAH yang Maha Agung. Saya menekan tuts keyboard sebagai manusia biasa, sebagai Hamba yang lemah. Saya membaca kisah-kisah Nabi, Ayat suci Al-Quran dan Hadist. Tapi saya tidak memasukkan-nyai kedalam tulisan saya. Seseorang mungkin akan berkata kepada saya, Jika benar, saya telah  mempelajarinya, harusnya ada dalil di sini (karena menyinggung isu agama), takutnya malah disangka sebagai tulisan tidak berdasar. Tidak berpondasi. Tidak berakar. Tapi itu hak semua orang untuk berpendapat.
Tidak ada yang salah dengan hal itu, saya mengelus permukaan meja kerja saya saat ini, merasakan sentuhannya, saya mengenal rasa ini. Seperti saya mengenal agama yang saya yakini ini Indah, penuh toleransi, tidak memandang buruk kepada orang lain, selalu mengajarkan hal-hal positif. Petinggi-petinggi agama bukan tidak pernah salah menafsirkan apapun. Saya meyakini ilmu agama mereka, meyakini Iman dan keteguhan hati mereka, saya mengagumi mereka dan belajar banyak pula pada mereka namun Jika penafsiran pesohor agama selalu benar, sudah pasti tidak ada kekejian, tidak ada perang, tidak ada teriak-teriakan ancaman, tidak ada teroris, tidak ada fitnah pada ajaran Allah SWT yang Maha Tahu, bahkan hari raya idul fitri tidak harus berbeda-beda.
Saya berhenti dan takzim kepada berbagai keindahan ayat Allah, Maha KasihNya menggambarkan Dunia dalam Pelukan Nya, Dia tahu perbedaan-perbedaan ini selalu ada. Tetapi saya percaya Islam mengajarkan kasih, kelembutan dan keindahan dalam perbedaan apapun…
Maafkan kelemahan dan kekurangan Hamba dalam menulis ini ya Rabb…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s