Sarah

kita

Apa jadinya kamu, tanpa kita?

Saya tahu, hidup itu tidak pernah mudah, juga tidak pernah terlalu sulit untuk dihadapi. Pernahkah kamu ingin bunuh diri? Saya pernah. Tanpa sahabat, tanpa keluarga, tanpa kekasih. Menyedihkan…

Dia sudah hampir terlalu lama pergi, sudah hampir terlalu lama tak pulang, tak memberi kabar..ktika terakhir dia marah karena pesan singkatku yang mengatakan, bahwa aku ingin mengakhiri kata ‘pacaran’, bagaimana kalau menikah saja? Rasanya saya sudah berkorban sendirian begitu banyak…Yup, pernyataan yang kasar sekali…dia di ujung sana tidak bergeming…marah…lalu, saya.. karena tidak mendapatkan jawaban, lebih hancur lagi, karena diabaikan selama lebih dari sebullan…dan dengan mudahnya dia mengarungi samudra ke ujung negara lain, demi sebuah tuntutan profesi.

Dengan berbagai rasa hancur ‘ditinggalkan’ kekasih, lalu kemudian polemik lain bermunculan, seperti kapal pecah, setiap permasalahan baru menyeruak…dan menenggelamkan saya dalam tingkat depresi yang tak wajar. Sebelumnya, berbagai kesalahan kecil nan bodoh terjadi, saya salah transfer pembayaran tiket travel, salah booked hotel, hingga ketinggalan pesawat. Jauh sebelum itu semua, saya mulai kehilangan kendali.. tetapi tak bisa bercerita. Lalu, kemudian akhirnya benar-benar hilang menjadi ‘abu’ ketika saya diacuhkan oleh hampir semua orang.

Sebulan lebih…saya melewati rasa keterpurukan dan melewatinya dengan susah payah, rasa ingin bunuh diri itu, saya menjadi naif, setiap malam tak bisa tidur, pagi..siang..sore..malam diliputi ketakutan, badan saya selalu gemetar, kepala saya selalu berdenyut, saya selalu mengantuk, lemas, tidak bertenaga. Seumur hidup saya, saya tidak pernah se hancur ini.

Sebulan labih…Allah memudahkan saya melewati fase kritis. Melapangkan hati saya dan membesarkan iman saya. Saya berusaha bangkit, meski dengan rasa malu, meski dengan perasaan bersalah, meski harus memulai semua hidup saya dari nol kembali. Saya mulai terbiasa… terbiasa tanpa orang-orang yang dulu saya andalkan, termasuk kekasih saya yang tiba-tiba hilang. Lalu, disaat saya mulai terbiasa… dia menyapa dengan ‘rahmat islam’..Assalamu Alaikum…

Apa jadinya, kamu?

Sedang saya yang tengah bangkit ini, masih mencintai-mu tapi tanpa rasa indah…

Apa jadinya, kamu?

Belum lewat sehari, kita ‘ngobrol’ dalam pesan media sosial itu, kamu meminta bantuanku…Saya tidak tahu bagaimana memulai kembali ‘perasaan’ ku. Saya tidak lagi yakin, kamu memang untukku. Bukan karena kamu yang sedang stress sekarang, tetapi karena naif-nya kamu bercerita sekilas mengenai masalahmu sekarang, tetapi karena kamu bahkan tidak bertanya, bagaimana aku sehari-hari kemarin tanpamu…bagaimana hancurnya saya kemarin… apa jadinya aku?

Kekhawatiranmu sekarang ini, tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi padaku kemarin…terlebih aku masih harus menanggung beban darimu…

Apa jadinya, kamu?

Saya akan berusaha membantu apa yang bisa ku lakukan untukmu…

lalu, apa jadinya kita?

 Noted:

Iseng :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s