being a mom

Sebenarnya sudah lama banget ingin nulis dan ceritain tentang pengalaman aku melahirkan Buah Hatiku tercinta, si N… Ingin banget share, untuk bunda yang lain biar bisa jadi ada  persiapan menghadapi persalinan, terutama bagi yang harus melewati fase persalinan lewat metode Caesar, apalagi kalau ini yang pertama kalinya.. Swear… saya aja waktu mo lahiran, begitu tau harus lewat metode SC, deg-deg-annya minta ampun dan demi mempersiapkan mental, saya memang sempat searching-searching tahapan by tahapan apa yang harus dipersiapkan selain mental (tentu).

Saya ingin noted bold dulu. Bahwa dengan cara apapun bunda nanti melahirkan mau lewat perslainan normal atau SC..Semua Bunda adalah wanita hebat.! Yang bilang lahiran lewat SC bukan IBU, dia mah nggak tau aja, anggapannya itu sudah membuktikan kualitas dirinya yang nggak Moms banget, mengajarkan cara untuk mengucilkan orang lain bukanlah sosok IBU Idaman bagi anak-anaknya kelak.

So ini dia tahapan Melahirkan lewat metode SC

  1. Umumya Bunda yang melahirkan lewat persalinan SC memang sudah mengetahui lebih dulu tentang jadwal-nya yang telah disesuaikan dengan dokter. Kalaupun ada Bunda yang baru ngalamin SC terpaksa karena darurat saat lahiran Normal, its ok Bun.. everythings will be OK. Jadi bagi yang sudah tahu jadwalnya, biasanya dokter akan memberikan 2 opsi. Opsi pertama apakah Anda ingin Nginap di RS semalam sebelum persalinan (terutama bila persalinan akan berlangsung pagi) atau opsi ke 2, nanti datang ke RS beberapa jam sebelum persalinan. Karena umumnya RS menyediakan pasien yang SC untuk menginap 4 malam, 3 hari (kalau normal sekitar 3 hari, 2 malam). Saya sendiri mengambil Opsi pertama, yakni menginap sebab saya merasa perlu lebih mempersiapkan mental saya, saya juga nggak ingin telat, membuat dokter menunggu atau tiba-tiba di jalan ada apa-apa, toh jadwal SC saya pagi banget (jam 7-8).
  2. Biasanya pihak RS akan menanyakan beberaa hal seputar administrasi kepada calon orang tua, Seperti apakah kita masuk pasien Umum / BPJS. Terus akan ditanyakan juga mengenai obat yang akan pasien gunakan, beberapa opsi yang diberikan ke saya dan suami, apakah menggunakan obat generik atau paten. Perlu Bunda ketahui bahwa obat generik dan Paten sebenarnya sama, kualitasnya seharusnya tidak lah berbeda, dimana obat Generik adalah turunan dari obat Paten sehingga biaya penelitiannya lebih murah yang mengakibatkan harga Generik juga jadi lebih murah dibandingkan Paten. Meski begitu, kalau dirunut dari beberapa study memang masih memiliki perbedaan. Bunda mungkin bisa menanyankan ke dokter perihal pilihan ini. Nah, klo suami ku memilih utnuk menggunakan obat Paten.
  3. Beberapa jam sebelum persalinan dimulai, perawat akan datang untuk membantu Bunda membersihkan area intim Bunda dari rambut-rambut halus disekitar perut/panggul dan kemaluan. Karena sudah tahu hal ini akan terjadi, saya sudah membersihkan-nya sendiri yang dibantu oleh Suami tercinta. Jadi perawat hanya nge-cek dan memastikan bahwa rambut di sekitar kemaluan sudah tidak ada. Hal ini pasti bertujuan untuk memudahkan proses persalinan dan menghindarkan Bayi Mungil terjangkit bakteri atau jamur yang mungkin ada di rambut kemaluan. Who knows? Lebh baik mencegah daripada mengobati khan.
  4. Ketika waktu persalinan sudah semakin dekat, para perawat yang bertugas akan memberikan baju, cover head yang steril. Pastikan Bunda sudah mandi dan langsung mengenakan baju steril tanpa mengenakan pakain dalam.
  5. Tiba saatnya Bunda memasuki ruang persalinan, jangan lupa sediakan Sarung / Kain, baju dan celana serta sarung tangan dan sepatu Buah Hati, beserta topinya. Jangan lupa juga untuk menyadiakan pembalut nifas (kalau bisa yang berbentuk perekat yah, jangan yang bentuk pants agar lebiih mudah mengenakannya ke Bunda) serta yang paling penting jangan lupa menyediakan korset untuk Bunda.
  6. Kemudian Bunda akan disuntik dengan obat anastesi (thanks to Allah, obat ini tercipta). Awalnya ketika mencari cari artikel tentang persalinan SC, saya membaca bahwa suntuk anastesi tsb dilakukan dengan cara pasien dipersilahkan duduk dan melipat dirinya, dimana posisi tangan saling bertemu memeluk kaki, posisi leher menunduk dan punggung dibengkokkan ke dalam. Namun dokter saya hanya menyuruh saya tidur sambil membelakanginya dengan posisi meringkuk, tapi rupanya posisi ini dokter mengalami kesulitan, sebab saya beberapa kali secara spontan menolak suntikan tsb. (Karena sebelumnya sudah ter-sugesti akan disuntik anastesi dengan posisi badan duduk meringkuk). Akhirnya setelah 3 kali pecobaan, dokter menyuruh saya meringkuk dengan posisi duduk (seperti yang saya baca), jadi Bunda jangan kaget kalau disuruh duduk meringkuk atau tidur meringkuk yah (sama aja). Cukup sekali suntikan, jeesss lancar jaya. Dari yang saya baca, banyak yang mengeluhkan bahwa suntikan di area tulang belakang tersebut akan terasa sangat sakit..tapi saya justru tidak merasakan sakit yang berlebihan alias biasa saja.
  7. Tidak perlu waktu lama setelah disuntik. Badan saya sudah mati rasa. beberapa Perawat mencoba mengangkat tangan saya dan tangan saya hanya terkulai lemes alias mati rasa. Saat itulah, saya tau dokter dan perawat sudah mengubek-ubek “bagian bawah”untuk dipasangi keteter. Semoga prosedur pemasangan keteter ini semua dilakukan setelah proses anastesi, karena saya mendengar dari beberapa Bunda lain, mereka mengalami kesakitan karena keteter dipasang terlebih dahulu baru disuntikkan anastesi. Whatt??? Alhamdulillah, saya tidak mengalami kesakitan sama sekali saat dipasangi alat ini. Mungkin Bunda bisa membicarakan ini bersama dokter, untuk urutannya.
  8. Saya merasa tegang sekali. Ketika tubuh sudah mati rasa, bersamaan dengan pemasangan keteter, para perawat juga sibuk memasang batas penghalang depan wajah dan dada, lalu memasang infus. Menyalakan lampu dan Bunda tahu waktunya semakin dekat. Bunda juga mungkin sama seperti saya, mendegar Dokter dan Perawat saling bersenda gurau, mengobrol seperti biasa. Dan membuat Bunda semakin bingung..semakin gregetan.. “mereka santai aja gitu…lah gue…shock dan ketakutan setengah mati”, tapi ya..dari yang saya dengar dari teman-teman yang SC, mereka juga sama gregetannya dengan saya. Tapi percayalah Bunda, hal demikian sikapilah positif. Itu berarti kemungkinan biar dokternya juga nggak tegang dan membantu Bunda agar tidak terlalu stress.
  9. Setelah itu, Bunda akan mengalami proses bukan lagi bagian bawah yang “diubek-ubek” tapi perut Bunda seperti sedang ada permainan “bongkar pasang”.. suatu waktu, saya merasakan dokter yang bekerja tengah membelah perut saya, dan suatu waktu saya juga bisa merasakan ada gerakan (mungkin di bayi saya) yang sedang ditarik oleh dokter lalu Bayi saya menghentak. Sepertinya kaki anak saya (posisi kepala dibawah) menendang organ tubuh saya, sehingga saya merasakan jantung dan paru-paru saya mengalami goncangan. Nafas saya sempat terputus beberapa detik Perawat yang bertugas mengamati wajah dan tangan saya sempat terkejut.Tatapan mata kami beradu, saya membuka mulut shock dan mengeluarkan suara erangan nafas tertahan (terhenti) tapi tidak bisa berbicara, jadi saya hanya mengerang dan menatap penuh harap. Perawat tsb mengecek dan menggenggam tangan saya. Begitu goncangan pada organ jantung dan paru-paru saya berkurang, perawat tsb menatap ke arahku seolah berkata ïts’ok mam. It’s almost done” dan tepat setelah itu, saya mendengar suara tangisan.. Anak saya lahir..tapi saya tidak seperti ibu-ibu pada umumnya yang langsung terharu, nangis dan emosi meluap-luap. Goncangan di jantung dan paru-paru saya tadi sukses membuat saya masih menyisakan shock dalam waktu yang lumayan lama, yang menjadi cikal-bakal Baby Blues Syndrome (mungkin) yang saya alami. Dokter memperlihatkan kepada saya buah hati saya…dengan tubuh masih biru, penuh darah dan tali pusar yang masih menggantung bebas… Saya hanya tersenyum dan mengangguk tak berdaya…Saya tidak akan lupa wajah anak saya untuk pertama kalinya itu.
  10. Setelah itu, kembali saya merasakan perut saya di “puzzle-in”. Dokter dan perawat tengah menjahit perut saya. Selama proses itu, saya menatap plafon ruang operasi, menatap seluruh ruangan yang bisa saya jangkau dengan seribu tanya seperti linglung. Iya, saya mengalami fase halusinasi. Suara-suara bercakap dokter dan perawat mengaung-ngaung tidak jelas. Plafon ruang operasi seperti lorong-lorong panjang, lorong-lorong mesin waktu yang tak berkesudahan. Saya merasa ruang operasi berputar-putar. Saya pusing. Dan waktu seperti sangat lambat berjalan. Seperti berjam-jam saya diruangan itu. Saya merasa badan saya digeser sedikti saat dikenakan korset, pun ketika butuh saya diangkat dari ranjang operasi ke ranjang pasien kamar. Saya merasa lampu-lampu diruangan itu seperti jam-jam raksasa di mesing lorong mesin waktu Doraemon. Dan ketika saya di tempat tidur saya didorong ke ruang pasca operasi menuju ruang pemulihan…lorong di RS itu panjaaaaaangg sekali…seperti sedang menyaksikan flim Hollywood yang dimana sang aktor digotong oleh dokter di sebuah RS dari pandangan sang aktor. Sama persis. Hanya kepala saya yang bisa bergerak dan saya merasa ini seperti goncangan pasca operasi. Saya sempat kesel, kenapa nggak ada yang bahas ginian di blognya waktu saya cari tahu tentang pengalaman SC. ^^”
  11. Di ruang pemulihan, saya diperbolehkan menggunakan HP untuk berkomunisasi dengan suami. Rupanya ketika saya diubek-ubek dokter, suami saya dipersilahkan menjenguk anak kami dan memperdengarkan adzan ke telinganya. Suami saya sempat foto dan merekam video. Lucu banget anak kami waktu itu (dan sekarang juga masih lucu). Di ruang pemulihann ini, pengaruh anastesi mulai berkurang, saya merasa kedinginan, dan dalam hati kembali meggerutu “kenapa fase yang ini juga nggak ada yang nulis sebagai pengalaman pasca SC?” Saya shock sekali lagi, karena seluruh tubuh saya yang menggigil kedinginan, tubuh saya bergetar hebat, tempat tidur sampai berderit-derit. Semakin saya menahan tubuh saya untuk tidak berguncang, semakin hebat getaran itu. Jadi saya pasrah tapi perlahan kaki dan tangan saya bisa digerakkan. Saya mulai bisa mengetik dan menyapa suami via HP. Dia mengirimi saya gambar anak kami. Masha Allah… sambil masih gemetaran saya menatap anak kami lekat-lekat. Saya hanya masih nggak percaya, bahwa anak kami telah lahir. Telat banget khan perasaan emosional saya..
  12. Saya harus menunggu sampai hampir mati kebosanan di ruang pemulihan itu. Saya sudah gelisah karena ruang pemulihan bagi saya mulai terasa panas. Saya kegerahan. Jadi wahai Bunda-bunda diluar sana, proses pemulihan ini sebaiknya siapin baterai HP yang full dan buat list movie yang mau ditonton (donlot juga okeh tuh) untuk menghilangkan kebosanan selangit, trust me! Saya masuk ruang persalinan jam 7 pagi, kata orang persalinan saya berlangsung nggak sampe sejam (bagi saya berjam-jam) itu artinya saya mungkin masuk ruang persalinan kurang lebih jam 7-8 dan keluar dari ruang persalinan jam 9-10 lalu dibawa ke ruang pemulihan..dan baru kekuar dari ruang pemulihan di waktu siang..jam 1-2). Sesekali perawat akan bertanya “sudah nggak kedinginan? Sudah bisa merasakan anggota tubuh?”, sebenarnya waktu itu, saya masih merasa kaku di bagian kaki tapi saya bilang ajaiya udah nggak mati rasa kok” dengan harapan saya segera bisa kembali ke kamar Tapi suster masih cuek.. jadi saya panggil perawat “Sus, sampe jam berapa saya disini?” ..”sampai jam 1 bu” kata suster yang saya tanyai, “tadi masuk soalnya jam 9 khan?” katanya lagi “nggak ah, saya masuk dari jam 7 kok sus (padahal memang dokter saya sebenarnya telat hampir sejam, tapi saya nggak bilang ke suster jaga)” kata saya sambil sok kuat goyangin tubuh saya biar disangka sudah pulih “oh gitu..ya sudah saya antar ke kamar y” Saya senang sekali mendengarnya. Yang ini tolong jangan ditiru yah Bun, kalau memang masih waktunya di ruang pemulihan dan masih harus tinggal, yah ikuti
  13. Saat dipindahkan ke kamar, kembali saya mengalami halusinasi lorong waktu. Mungkin inilah efek kalau berbohong sama suster sok sudah pulih.. tapi lebih besar keinginanku untuk istirahat dikamar pasien dan bertemu dengan suami. Ketika tiba dikamar, suami saya nampak sumringah bahagia dan bercerita tentang anak kami. Saya lalu bertanya pada nya “Gimana perasaan kamu pas ngeliat anak kita?” tanyaku..”BAHAGIA SEKALI” katanya dengan mantap.. saya lalu terdiam, dalam hati berkata “kok, saya biasa aja yah?” tapi saya tidak membicarakan itu ke suami saya, takut saya dianggap gila dan nggak Sekali lagi, saya lupa mengenai istilah Baby blues syndrome. Satu persatu kerabat dan keluarga datang menjenguk. Sakit pasca operasi belum terlalu saya alami. Berkat bantuan suami dan mertua yang ngasih obat pasca operasi. Bayi saya belum ada. Karena masih d ruang perawatan bayi. Jam 10-11 malam, perawat datang membawa bayi kami. Dalam hati saya berkata “kok udah datang aja? Saya khan masih capek” ujarku dalam hati tapi berbanding terbalik dengan suami saya. Suami saya dengan sigap memberi jalan ke suster, menyingkirkan benda-benda yang mungkin menghalangi langkah suster. Mata suami saya juga seperti anak kecil dalam serial flim kartun yang berbinar-binar karena dikasih permen lollypop. Suster menyerahkan anak saya dan berkata “silahkan d beri ASI yah bu”. Suami saya sibuk mengamati, persis anak kecil dikasih mainan sulap. Waktu itu, ASI saya keluar cuma beberapa tetes, suami saya malah sibuk bantuin meres (kayak sapi aja yak diperes). Kami nggak tau kalau ternyata bayi baru lahir setetes dua tetes mah  udah cukup.. ^^” saya yang biasa-biasa aja bertanya-tanya dalam hati “saya ini kenapa yah…harusnya khan saya seneng?”. Ketika selesai di beri ASI, anak kami ditidurkan di tempat tidur bayi disamping tempat tidurku.. Saya mengamati suami saya yang terus memandangi anak kami.. hati saya tenang melihat suami saya yang bahagia. Tengah malamnya, anak kami menangis. Suami saya gelagapan. Saya biasa aja! Suamiku bilang kasih ASI sayang..cepetan” katanya dengan wajah panik. Saya minta suami saya yang menggendong anak kami ke pangkuan saya, karena memang saya belum bisa bergerak. Suami saya makin gelagapan. Tapi berkat arahan saya, suami akhirnya berani menggendong anak kami dan memberikannya ke saya. Saat itulah saya menyadari satu hal..dan sekarang saya baru tahu, waktu itu sebenarnya saya lah yang menolak baby blues syndrome itu sendiri tanpa saya sadari.

Ketika sauami saya memberikan bayi kami, saya bisa merasakan kegelisahan suami saya dan ketidak tegaan pada bayi kami terpancar jelas diwajahnya. Saya berkata pada diriku sendiri sambil menggendong anakku “Mama, tidak membencimu. Maafin mama yah.. mungkin karena kecapean aja” kataku dalam hati. Saya mengusap lembut pipi suami saya dan tersenyum, lalu mulai memberi ASI. Suami saya terus  berada di samping saya saat pemberian ASI. Malam itu, kali pertama saya mengecup anak saya di keningnya dan suami saya juga ikut mengecup kening saya dan berkata padaku “terima kasih sayang”.  Dan gejala baby blues syndrome itu pergi tak berbekas. Saya pun baru menyadari bahwa kemungkinan itu memang gejala awal baby blues syndrome. Untungnya suami saya (dia sendiri nggak sadar) memberikan efek luar biasa ke saya melalui cintanya pada anak kami. Kalau bukan karena rasa cinta saya yang besar ke suami sehingga menyadari bahwa kebahagiannya adalah yang utama, saat itu mungkin saya sudah mengalami baby blues syndrome yang parah. Support suami dalam merawat anak juga ternyata berefek sangat besar bagi istrinya terutama pasca melahirkan. Dan kalau bukan kita sendiri yang melawan perasaan itu, siapa lagi Bun?? Saya beberapa kali berkata pada diriku sendiri sambil mengurusi anak saya ïni anak saya, saya tidak boleh membiarkan anak saya kenapa-kenapa!).

Untuk para suami, show your love! Jangan ragu menunjukkan kasih sayang Anda pada anak dan istri Anda, berikan dia support, jangan salahkan dan berikan dia yang terbaik. Anda tidak pernah tahu betapa besar efek positif dan kebaikan yang Anda berikan untuk Istri Anda tanpa Anda sadari atau mungkin tanpa istri Anda sadari seperti saya misalnya…

  1. Step terakhir pasca SC… ketika hari ketiga, dimana Bunda siap melepaskan keteter. Ternyata bagi saya, inilah sakit yang sangggaaattt sakkiiitttttt. Saya sempat menjerit dan menangis karena saking sakitnya. Meski beberapa teman saya tidak mengalami seperti yang saya rasakan. Toh teman saya katanya lebih sakit waktu di suntik anastesi (saya waktu itu nggak bermasalah sama sakitnya). Jadi memang intinya sakit dan tidak sakitnya masing-masing proses tsb memang berbeda-beda.
  2. Pasca dicabutnya keteter, berarti Bunda harusnya sudah bisa mulai latihan berjalan kembali. Dan sakitnya memang minta ampun. Dobel dobel. Selain sakit sakit di bekas sayatan pasca operasi, saya ngilu di pinggul, saya juga merasakan sakit yang luar biasa di area miss V saya, bekas keteter. Untuk berjalan menuju kamar mandi (ingin pipis) saya dibantu suami. Rasanya benar-benar bikin nangis-nangis. Jadi yang bilang SC itu nggak. tolong yah..yang membuat saya juga ingin cepat pulih adalah agar segera bisa merawat bayi saya tanpa menyusahkan orang lain lagi. (See, Baby Blues Syndrome itu telah hilang berganti menjadi CINTA yang besar)
  3. Sampai di WC, banyak Bunda yang tidak bisa langsung duduk atau jongkok untuk buang air kecil. Saya harus share ini 100% ke Bunda yang lain agar bisa mulai mempersiapkan diri. Saya pribadi buang air kecil dengan posisi sambil berdiri menahan pedisnya bekas keteter. Masha Allah suami saya tidak menolak dan malah tetap membantu memegangi saya. Dia bahkan mengurusi nifas saya, membersihkan bekas buang kecil saya dan membantu saya kembali ke tempat tidur. Saat itu, saya benar-benar mengucapkan syukur pada Allah SWT atas suami saya. Bunda, jangan lupa mengucapkan terima kasih dan maaf pada suami yah atas bantuannya…
  4. Di hari terakhir, sebelum pulang. Suami saya berangkat ke kantor BPJS, untuk langsung membuatkan anak kami BPJS (paling bagus juga dibuatkan saat Bunda hamil minimal 7bulan), agar bisa mendapatkan penanganan yang cepat jika dibutuhkan. Suami saya mengurus BPJS agar anak kami di imunisasi dan kontrol pertamanya langsung bisa menggunakan BPJS. Meskipun masih terasa sakit dan ngilu, stay strong Gendong bayi tercinta anda dan berikan yang terbaik as always.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s