Aku…katarak?

Umurku masih kepala 3 (tiga).. whaaatt, “masih”? huhuu.. nggak tahu, mo seneng apa sedih.. wkwk. Sejak kecil, mmm.mugkin sejak SD (Sekolah Dasar) saya sudah mengenakan kacamata minus 1 dengan silinder sekian koma.. sejak itu, minus mataku terus memburuk. Saya ingat banget, terkadang saya tidak bisa ikut bermain dengan teman-teman tetangga jika hari sudah memasuki petang menuju malam. Asseeelii, waktu itu main hide and seek, saya cuma lari-lari geje.. sedikit frustasi karena nggak bisa menemukan kawan dan lawan… bukan hanya ketika bermain, di sekolah saya sering tidak pedulian dan tidak memahami pelajaran sekolah, karena kesulitan melihat papan tulis, jadi ketika guru menerangkan, saya sibuk menggambari buku tulis saya…. orang tua memahami, ada sesuatu yang salah dengan diriku, mereka juga melihat saya menonton TV terlalu dekat atau ketika membaca buku. Mama membawa saya ke optik, kacamata minus pantat botol bertengger di hidung saya yang minimlis, berat sering jatuh. Entah sudah berapa kacamata saya yang rusak, patah dan hilang, saya juga malu karena minusnya yang tak biasa. Mugkin teman-teman saya mengenali saya sebagai “Sarah yang kacmatanya tebel pantat botol itu”. Suatu ketika kesekian kalinya, optik dan rumah sakit negeri dekat rumah angkat tangan, give up… mereka tidak lagi bisa megukur minus dan silinder ku yang terus bertambah hingga minus 6-7 dengan silinder 2-3. Atas saran doter di RS Haji Makassar, saya dirujuk ke RS Wahidin Sudirohusodo yang terkenal sebagai RS Negeri dengan peralatan paling canggih dan lengkap se-Sulawesi. Berdua saja dengan Mama, kami menunggu cukup lama, hingga tiba giliranku, saya ingat jejal peraalatan pengukur mata di sana memang cukup banyak dan hampir semuanya saya gunakan…. Mulai dari ukur lensa otomatis yang didalamnya disuruh ngeliat balon udara hingga melihat kincir angin lalu pindah ke alat ke bagian miirp kaki robot yang tulang belulang kabel hitam menjulur ke lantai, ada sensasi mata ditiup sampai ke alat yang lumaya tinggi yang diklaim paling canggih kala itu. Minus dan silinder saya ketemu… ternyata minusnya nambah.. jadi 8-9 dengan silinder 4-5, waktu itu sudah usia SMP (Sekolah Menengah Pertama). Bertahan beberapa tahun dengan kacamata tsb, masuk SMA (Sekolah Menengah Atas), minusku tetu bertambah karena ketidakrajinan ku mengenakan kacamata yang menurutku memalukan.. Bertahan cukup lama dengan kacamata minus 10-12 hingga kuliah. Kemana-mana saya suka ngomong minus 5 aja ke teman-teman, soalnya suka risih dengan ekspresi terkejut orang-orang. “Wah!” “What?!” “Astagfirullah”, “Masa weh?”, “Astaga”,”Seriusko?”,”Iyokah?!”

Benar, saya memang terbiasa dengan penglihatan yang segitu-gitu aja, saya terbiasa tidak mengenalli rekan saya dari jarak semeter, saya menghapal cara jalan, suara, cara berpakaian setiap orang yang saya kenali. Semua mata pelajaran dari SMA-Kuliah selalu saya pelajari sendiri, untunglah jaman SMA Google sudah bertahta di bumi Karena itu, prestasi akademik yang dari jaman SD-SMP selalu anjlok dan hanya terbilang stuck di standar rata-rata, tapi semua terkejar di bangku SMA (Sekolah Menengah Atas) menjadi peringkat kelas, juara 1 hingga kuliah tergolong bisa diandelin oleh teman-teman kampus, nilai IPK cenderung tinggi, nggak lagi malu-maluin…. Masuk kerja, saya mengalami tantangan tersediri. Menatap layar laptop terlalu dekat yang sangat membatasi saya, kebiasaan typo dan kebingungan rekan kerja saya yang katanya saya kayak udah mau nyium layar monitor laptop. Akhirya saya mengenakan softlense dengan minus 10. keadaan jadi lebih membaik. saya merasa terselamatkan dengan seftlense. Tapi keribetan softlense mulai sering mengintai..sebagai pekerja lapangan yang terbiasa outdoor dan kerja rodi sampai tengah malam (dulu sempat kerja di Event Organizer) megharuskan saya mengenaakan softlense dalam waktu yang lama. Iritasi akhirnya sudah berkali kali saya alami. Sampai suatu hari, iritasi terparah hingga menggores kornea mata terjadi! Tahun 2018, mau tidak mau, saya dirujuk ke RS Unhas (Universitas Hasanuddin) yang masih ‘satu family’ sama RS Wahidin..dalam hati.. Aduh..kalau sudah sampai di sini, berarti sudah masuk fase parrraaah level akut…saya bisa membayangkan berapa peralatan mata yang akan akhirnya reuni sama saya… Dan ternyata benar… setelah reuni dan kenalan dengan alat baru yang sudah me-regenerasi, akhirnya dokter mata menemukan fakta terbaru.. ada katarak! Kaget? Tentu saja.. semakin shock pas dokter bilang.. “ini jenis katarak bawaan..katarak yang sudah ada sejak kamu baru lahir”….sedih… tapi ya sudahlah.. dokter juga menjelaskan, ini-lah salah satu alasan mengapa sulit menentukan minus dan silinder ku selama ini bahkan sejak kecil. Jadi, siapa bilang katarak hanya muncul saat usia lanjut? No..no... silahkan simak penjelasan lebih detail tentang katarak yang bisa muncul saat usia bayi di sini. Jadi-lah hari hari saya hampir 3 miunggu bergelut di RS Unhas untuk menyembuhkan iritasi softlense dan luka di kornea terlebih dahulu baru akhirnya operasi katarak bisa dilakukan. Sebagai salah satu RS terbesar dan terlengkap, tidak heran jumlah pasiennya membludak setiap hari dari pagi hingga bahkan malam hari. Saya jadi tidak enakan sama atasan di tempat kerja terakhir, karena ada kalanya seharian menghabiskan waktu di RS Unhas.

Sampai suatu hari, masalah perihal mata saya memasuki babak baru. Iritasi dan luka akibat penggunaan softlense selesai, katarak sudah diketemukan… tapi.. geometri lensa-ku bikin dokter pusing… bolak balik ke RS Unhas entah berapa alat saya gunakan, sampai ke alat palig muktahir yang hanya bisa digunakan dalam ruang gelap yang sepertinya jarang disentuh manusia-pun akhirnya saya gunakan, saya masih bisa merasakan titik debu dan dinginnya alat tersebut. Sepanjang proses pindah pindah alat, jangan tanya rasa malu ku gimana.. belum lagi ketika dokter silih berganti menyalakan mesin pengukur geometri… entah sudah berapa tetes obat anastesi bola mata diteteskan setiap pengukuran geometri sampai bola mata kesemutan setiap hari selama kunjungan RS. Setelah drama panjang pengukuran geometri, perjalanan saya ternyata masih panjang…

RS Unhas menyatakan, saya harus dirujuk lagi ke RS Wahidin Sudirohusodo, karena lensa ukuran geometri ku tidak tersedia di RS Unhas, itu termasuk ukuran langka dan harus dipesan khusus.. rasanya saya ingin menyerah… rutinitas berminggu-minggu dengan berbagai obat-obatan sebelumya terasa sia-sia dan menyesal karena gara-gara rutinitas itu-lah yang membuat saya berhenti mengASIhi putri saya yang baru berusia 7 bulan. Stress, capek membuat pumping ASIP juga gagal. Saya tidak sanggup memikirkan harus memulai lagi dari awal di RS Wahidin Sudirohusodo, saya juga tidak bisa membayangkan gimana minta ijinnya ke atasan lagi. FYI jarak RS Wahidin dan Unhas itu juga terbilang jauh dari tempat tinggal saya. Akhirnya rasa malas dan ketidaksanggupan saya memulai lagi dari awal itu, membuat pengobatan mata katarak ini stuck. Tapi sebuah keputusan besar karena didorong oleh keluarga harus berobat, akhirnya di tahun 2019, saya resign. Satu-satunya yang membuat saya merasa harus berobat dan memulai dari awal lagi karena putri semata wayangku, terbesit beberapa kali, gimana jadinya jika suatu hari nanti saya nggak bisa lagi memandangi wajah anak saya…

Next saya lanjut di postingan berikut yah.. gimana akhirnya..apakah katarak ini tetap menjadi teman setia saya atau saya justru memulai hidup saya tanpa katarak dan tanpa minus tinggi lagi… hehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s