Aku…katarak (2)

Finally, harusnya pertengahan tahun 2019 kemarin, saya memulai semua kembali dari awal. Pemeriksaan dan pengobatan hingga operasi katarak. Sebelum akhirnya, semua itu menjadi omong kosong.. pandemic covid-19 melanda dunia… rumah sakit-rumah sakit terutama RS Wahidin Sudirohusodo Makassar menjadi tempat yang paling tidak ingin kita datangi. RS Wahidin menjadi salah satu RS resmi rujukan covid-19, bahkan waktu itu, seluruh armada ojek online tidak diperkenankan mengambil dan mengantar penumpang ke sana. Serem cuy..

Sabar menanti saja-lah sampe pandemi mereda. Seiring penundaan itu, katarak ini mulai ‘berasa’. Selain pandangan yang semakin kabur, sensitif pada cahaya, pandangan meredup, saya mulai mengalami yang namanya buta warna. Saya tidak lagi bisa membedakan warna ungu-cokelat, biru-hijau, pink-orange, putih-kuning. Dengan pede-nya saya me-retouch foto-foto anak dan suami lalu posting di media sosial… kacau! Akibat sudah mulai buta warna itu, saya semakin resah.. semakin gelap dan semakin mulai gelisah. gimana nih klo bener-bener buta besok….

Untungnya, saya punya saudara laki-laki seperti adekku yang sangat care dan sigap. Dia-lah orang di garda terdepan yang terus mendorong saya untuk berobat. Saya menggunakan layanan BPJS untuk mulai lagi dari awal, walaupun itu akhirnya baru terlaksana di tahun 2020 ini.

Bulan Oktober 2020, saya dan adekku berangkat ke faskes, di Kimia Farma Dg.Tata, kami bertemu dengan dokter umum dan menjelaskan dari awal perihal kronologi mata yang awal nya di tahun lalu kena luka iritasi mata dan ditemukan katarak, sesuai prosedur BPJS yang belum lama ini berlaku, dari faskes kami harus dirujuk dulu ke RS Tipe C, kami dapatnya di RS Hikmah Makassar, maka di hari yang sama itu juga kami berangkat ke RS Hikmah, menunggu sebentar dan bertemu dokter poli mata, kami jelaskan lagi semua kronologi, intinya biar bisa dikasih rujukan lagi untuk Operasi Mata Katarak, tapi adikku memang jenius perihal begini-beginian. Dia minta agar rujukan penanganan katarak tidak perlu ke RS Unhas (karena kemungkinan besar pasti di arahin lagi ke sana), kita jelaskan bahwa di RS Unhas merujuk kami ke RS Wahidin karena kelangkaan ukuran lensa mata ku, kami juga menyampaikan bahwa dokter di RS Unhas pernah mengatakan bahwa lensa khusus untukku harus dipesan tersendiri dan itu bisa dilakukan di RS Wahidin dan RS Siloam! Tapi Adikku lebih banyak meyakinkan dokter bahwa RS Siloam harusnya layak kami coba, karena prosedur / jalurnya pasti sama saja, adikku juga meyakinkan dokter, bahwa RS Siloam di klaim lebih baik untukku, karena dari segi jarak (RS Siloam memang lebih dekat berbanding dengan jarak RS Wahidin yang jaaaauuuuhhhhhhhh), dokter di RS Hikmah bisa mengerti keadaan kami. Dia setuju memberikan rujukan ke RS Siloam. Lega!

Besoknya, kami mendaftar loket E untuk pendaftaran rawat jalan dengan rujukan BPJS di RS Siloam Makassar, sebelumnya kami sudah mengincar dan mencari tahu dokter mata yang kami percayai sebagai yang terbaik, yakni dokter A Muh. Ichsan, Ph.D, SpM. Antrian mengular seperti biasa di setiap RS untuk poli, hingga tiba akhirnya kami masuk menemui suster terlebih dahulu, namanya suster Vero. kami ceritakan kembali kronologi dan lain-lain, suster Vero mengerti dan mulai mengukur jarak mata dengan mengenakan kacamata lensa padaku untuk melihat deretan huruf atau angka, dengan jarak tertentu di dinding, namanya Snellen Chart proyektor

Snellen Chart Poyektor

Seteelah itu barulah menggunakan alat ukur tekanan mata dan lapangan pandang yang belakangan baru saya cari tahu demi menulis di sini, nama alat itu adalah Non Contact Tonometer, yang digunakan untuk mengukur tekanan bola mata secara otomatis tanpa menyentuh bola mata, sensasinya seperti maat di tiup, ini dikarenakan alat ini menggunakan hembusa udara untuk meratakan kornea agar dapat mengukur tekanan intraokular pada mata pasien.

Non Contact Tanometer

Setelah itu saya berpindah ke alat yang bernama Auto Refractometer, yakni alat untuk mengukur kelainan refraksi (kelainan mata yang memerlukan bantuan kacamata).

Auto Refractometer

Setelah itu, saya dipertemukan dengan dr Ichsan, kami ceritakan lagi dari awal (gile yah nggak bosen-bosen loh kami cerita berulang-ulang).. Dr. Ichsan pun cepat memahami, beliau memeriksa mata ku menggunakan alat Applanation Tonometer, alat yang dipasang pada mikrosop slit lamp untuk menentukan tekanan intraokular dengan mengukur resistensi kornea, senssinya mah biasa saja, palig kayak mata lagi disenter-senter aja.

Applanation Tonometer

Setelah itu, saya kembali ke ruangan suster Vero untuk dilakukan pengukuran geometri.. Yuuuuhhuuu, tahapan ini-lah yang kemarin di RS Unhas bikin pusing para dokter, bolak balik nyari ukuran.. hmmm.. gimana, gimana kalo di RS Siloam? Will see…

Suster Vero orangnya terlihat cekatan, lincah dan cukup handal. Tapi … teng teng teng, suster Vero mulai pusing… alat pengukur geometri untuk menemukan ukuran mm lensa ku (yang sayangnya, gambar alatnya nggak nemu Google). Posisi saya sebagai pasien, duduk di kursi, dokter/suster terlebih dahulu meneteskan semacam obat tetes anastesi ke bola mata, sensasi bola mata agak perih di awal, lalu kemudian bola mata akan terasa sedikit kaku, suster/dokter memegang sebuah benda berbentuk seperti bolpoint laser yang biasa digunakan para dosen, diujungnya persis demikian, ada lampu merah kecil-kecil diujungnya seperti laser yang diarahkan ke lensa mata, jaraknya alat tsb dengan mata pasien kira-kira hanya 2-3 cm, alat ini harus dipegang lurus oleh suster/dokter, alat tsb ujung lainnya memiliki kabel panjang yang tersambung langsung ke monitor yang tersambung dengan susunan keyboard dan printer seperti printer kasir swalayan yang memang nantinya akan mengeluarkan deret angka geometri hasil pengukuran. Di monitor juga akan nampak grafik pengukuran geometri. Bunyi alat itu ada 2 macam, bunyi tuk..tuk..tuk..tuk saat alat tersbut kehilangan haluan / hitungan ukuran geometri dan bunyi nyaring tit..tit..tit, jika ia menemukan ukuran geometri yang pas. Sayangnya ketika suster Vero dan dokter-dokter di RS Unhas kebanyakan ketika menggunakan alat ini ke mataku, lebih serung terdengar suara.. tuk.tuk..tuk..tuk alias failled! Sesekali alat tsb menemukan ukuran ku lalu hilang sekian detik km cahaya (lebay beut), suster Vero nyerah! Dia memanggil dr. Vanny (semoga penulisannya bener), posisi dr Vanny seperti tentara tegap yang memegang senapan lurus ke arah sasarannya, lututnya menopang tubuhnya dengan kokoh, tangannya lurus memegang alat bolpoin itu dan tangan satunya membuka kelopak mataku. Untuk beberapa saat, saya dan dr.Vanny sama-sama berusaha masing-masing, saya memfokuskan berusaha agar pupil mataku tidak bergerak sedikitpun, bahkan sampai menahan nafas, pun dr.Vanny, saya masih ingat betul, dia menahan tubuhnya, meminimalkan pergerakan apapun. Cukup lama, dan dokter mata manapun yang sudah mencoba mengukur geometri ku belum pernah ada selamaaaaa beliau. Dokter lain, pasti terdengar hembusan nafas nyerah atau bunyi ck! di tekanan ujung lidahnya, atau paling tidak terang-terangan mengatakan “hilang terus nih ukurannya”. Tapi tidak untuk dr.Vanny. Dia sabar dan semakin membuat saya ingin membantunya cepat menyelesaikan pengukuran geometri ini, dalam hati saya berdoa… bernazar.. “Ya Allah, permudahkan kami menemukan ukuran geometri ini, agar lensa ku bisa dibuat.. setelah ini, jika Engkau memang mengamanahkan saya penglihatan yang baru dan lebih baik, akan saya gunakan mata ini untuk pandangan yang baik-baik saja. Akan kujaukan pandanganku dari keburukan, maksiat dan pandangan-pandangan tak senonoh yang tak perlu sebab hanya dengan izinMu penglihatanku pula yang akan menjadi saksi di hari kebangkitan kelak” setelah itu, deretan angka tercetak panjang keluar dari mesin mirip printer kasir. Dr. Vanny tetap mengulang pengukuran beberapa kali untuk kedua mata. Setelah itu dr. Vanny berkata pada saya, adikku dan suster Vero “kita ambil rata-ratanya saja. jadi memang tadi sengaja saya ulang-ulang, ukurannya terus berubah karena ukuran geometri matamu memang keccccciiiil sekali, dari sekian kali mencoba, kita ambil rata-ratanya” Mashaa Allah… tiba-tiba seperti ada telaga di ladang tandus mendegar ide brilliant itu! Dia dokter yag cerdas! Dokter mata yang sama, waktu mataku iritasi softlense kesekian kalinya di RS Awal Bros. Good Job dokter! Terima kasih!

Suster Vero bersiap ganti shif dengan suster Ely. Mereka memberikan saya dan adikku waktu untuk mempertimbangkan, tindakan operasi nanti, apakah kami akan tetap menggunakan layanan BPJS atau menggunakan asuransi perusahaan tempat suami ku bekerja, sebab dr. Ichsan menawarkan alternatif lensa yang lebih baik (diluar tanggungan BPJS), tapi setelah diskusi dengan suami, saya sampaikan rasa percaya ku bahwa lensa yang ditanggung BPJS juga baik kok, meski mungkin tidak secanggih lensa diluar BPJS yang katanya lebih bisa menahan panas sinar matahari langsung dan sebagaiya, harganya dibandrol Rp. 2,4juta/lensa. Tapi entah mengapa tersirat kepercayaan dibenakku bahwa lensa biasa pun akan baik-baik saja, inshaa Allah.. Jadi, suami pun meng-iya-kan mauku. Jadwal operasi keluar, (saya lupa tanggalnya), jadi saya diharuskan melakukan tes darah dan MRI terlebih dahulu di hari yang sama, hasilnya keluar nanti di hari Rabu, lalu megambil rujukan tes SWAB di hari Rabu juga, sebab hasil SWAB keluar di hari Jumat bersamaan di hari jadwal operasi katarak (saya cuma ingat harinya). Hari Rabu kami datang, mengambil hasil tes darah dan MRI. Alhamdulillah semua normal. Tes SWAB pun saya jabani penuh ketakutan..hahaha tapi dilakoni juga.

Hari Jumat tiba, kami kembaii ke poli mata dengan membawa rujukan operasi, di poli juga sudah ada hasil SWAB, Alhamdulillah negatif. saya lalu diarahkan langsung ke ruang operasi di lantai 3. Mengganti pakaian bedah / operasi, mengenakan masker kepala dan masker mulut-hidung. Tiba-tiba saya sedikit nervous, padahal awalnya santuy, saya mulai grogi bukan main. Jujur, saya awalnya terlalu santuy, nggak kepikiran kalau operasi katarak juga termasuk OPERASI. Di kepala saya, operasi katarak mata itu B aja. Toh, sudah sering ada operasi katarak massal, berarti cuma operasi ecek-ecek, yang pasti nggak seberapa (Sombong amat yah eike). Berada di ruang tunggu operasi, dengan pakaian bedah, masker rambut .. membuat saya makin gugup. Kayak berasa mau operasi caesar lagi. Dokter Ichsan datang… saya di dorong menggunakan tempat tidur, melewati lorong panjang lantai ruang operasi, melihat meja operasi, lampu ala-ala ruang bedah pada umumnya, menemukan dokter dan suster mengenakan pakaian bedah serba hijau, hati saya makin tak karuan. Suster menutup sebelah mata saya dengan selotip bedah, suster memasangkan alat denyut jantung, alat pompa darah dan alat di kelopak mata kiri yang bersiap operasi, lampu disorot ke mata kiri, sebuah alat menyerupai cincin dipasang di mata kiri, agar kelopak mata tetap terbuka. Suster mengambil alat seperti semprot kran kecil, menyiram cairan di mata kiri ku dengan santai sekali.. perih, saya tanya..”kok perih..apa itu ya?”, suster dengan santai enteng menjawab “oh iya agak perih, soalnya ini betadine!” bagai disambar gledek, pengen ngumpat tapi nggak bisa.. apalah dayaku.. Dr Ichsan memegangi kepalaku, osisinya di atas kepalaku, dekat mata kiri, dia berkata dengan lembut “Nak… ayo kita berdoa dulu… Bismillahirrahmairrahim, ya Allah..lancarkan dan mudahkan operasi ini, lahaula walakuataillabillah, al-fatihah…..”.. “….” suasana hening.. khidmat, saya semakin tegang, tidak karuan. Suster mulai mencatat waktu operasi menggunakan microphone “hari ini, jumat tanggal…… akan dilakuka operasi blabalablabala oleh dokter ichsan dengan pasien atas nama Sarah blabalaalabal” dan operasi benar-benar telah dimulai!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s