BELAJAR

Pagi, beberapa minggu ini saya kembali menjalani rutinitas sebagai ‘cewek rumahan’, yup!  Bulan ini saya resmi memegang status jobless lagi.. setelah 9 bulan kerja mendedikasikan tenaga dan waktu saya di pekerjaan saya yang bergerak di industri start up dan bidang bidang pendidikan. Selama 9 bulan, saya belajar banyak hal terutama tentang pendidikan di Indonesia yang luas banget.

Dari dulu saya termasuk orang yang menjalani aktivitas sekolah sampai kuliah tuh lewat jalur-jalur biasa saja, jalur awam, alias ikut tes-masuk sekolah, simplenggak pake ribet-, di sekolah atau kuliah pun saya nggak pernah mikirin yang namanya ikutan beasisiwa, bidikmisi apalagi sampe mikirin beasiswa keluar negeri..boro-boro, sekolah-kuliah aja saya cuma tahu, datang sekolah-belajar-istirahat-jajan-nongkrong-pulang-kerja PR-nonton-tidur dan begitu seterusnya. Sampai akhirnya saya kerja di perusahaan start up itu. Mata saya terbuka segede-gedenya, bahwa diantara saya yang ‘manusia biasa’ ini, banyak banget di kantor, anak-anak yang nggak main-main sama pendidikan. Serrrius banget ngejar yang namanya Beasiswa Bidikmisi, LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) untuk lanjut S2 bahkan untuk kuliah ke luar negeri.. Helllooouuww, kemana aje saya selama ini yah?

Siapa tahu ada diantara kalian yang juga manusia awam seperti saya yah, saya mau ngasih tahu aja. Bahwa pendidikan memang ternyata penting banget, bukan ‘penting’ isapan jempol semata or  hanya manis di bibir saja yah. Tapi memang amat sangat penting. Banyak banget orang yang sekarang mati-matian kejar kuliah setinggi-tingginya dan yang paling penting, pikiran mereka adalah ‘kuliah jangan nyusahin’, benar-benar pure kuliah tanpa membebani orang tua…

Cara Belajar Yang Efektif Menurut Islam

Sumber Gambar

So, saya tidak perlu menjabarkan bidikmisi itu apa sih, LPDP itu apa sih? Google sudah bisa banget membantu memberikan artikel yang lebih dalam tentang itu, sementara di blog saya ini, saya hanya ingin menginformasikan bahwa ‘di luar sana, pelajaran itu sangat luas, tak terbendung apapun..saya belajar banget dari lingkungan dan membantu saya banget untuk membuka cakrawala berfikir saya, meskipun sedikit terlambat tapi, proses bagi masing-masing orang memang berbeda-beda’, Nggak papa terlambat tapi yang penting, kita tak pernah berhenti untuk belajar.

 

Iklan

flashback

tepat kemarin malam (21/12), di hotel Amaris Hertasning, finally…meet up sama Blogger Favorit saya, mbak Indah Rephi  Yup, since 2008-an kita yang dulu rrrajjin dan getol banget blog walking, posting-posting-an geje (gak jelas), sampe akhirnya beneran jodoh bisa ketemu dan aslinya cantik banget.. 😀  walaupun cuma bentaran…lebih ngenes-nya lagi…saya tuan rumah (Makassar) tapi saya yang ditraktir ^^”(jleb!)

Baca lebih lanjut

dunia dalam pelukanNya

Saya memandang nanar tulisan-tulisan dari berbagai pendapat..
.
“Mengucapkan Salam Hari Keagaamaan lain bukanlah bentuk toleransi yang ber aqidah”
Lalu di barisan lain “Adakah gambaran dan tulisan yang jelas dari Allah dan Rasul-Nya yang melarang kita mengucapkan salam kepada pemeluk agama lain?” tulisan-tulisan ini tidak serta merta diterima baik oleh akal dan pikiran seorang manusia lemah seperti saya.
saya masih membaca…

Baca lebih lanjut

Cinta di setiap sarapan pagi

teh

Sumber Gambar

Setiap pagi, Bapak saya, seorang kakak perempuan saya, kakak ipar saya, seorang adik laki-laki saya, seorang adik perempuan saya dan saya sendiri akan disuguhkan rutinitas yang sama setiap pagi… Meja makan yang setengahnya dipenuhi sarapan pagi. Senampan berisi 7 cangkir teh dan atau susu. Meski lebih seringnya berisi teh semua. Cangkir kami semua anggota keluarga, berbeda-beda ukuran, warna dan motif. Bapak saya memiliki cangkir susu / teh berukuran paling besar berwarna putih polos dengan bingkai di setiap sisinya terlihat kokoh dibandingkan cangkir lainnya. Cangkir Mama bentuknya lebih ‘langsing’ karena lebih tinggi di anding cangkir lain, dengan permukaan sisi-sisinya seperti bentuk daun menjuntai, dengan bentuk pegangan yang feminim dan berkelas. Cangkir kakak ipar saya berwana biru tua dengan bentuk gagang terbalik, di bagian dalamnya berwarna krem, cangkir yang seperti itu menandakan pemiliknya juga seorang pecinta kopi, cangkir kakakku bentuknya biasa saja, bergambar foto dirinya bersama rekan-rekan kantornya ketika sedang mengikuti diklat di Jakarta, cangkir adek laki-laki-ku tidak menentu (tidak punya yang khusus) hanya cangkir dirumah, cangkir milik sejuta umat (gimana yah jelasinnya), cangkir adikku yang perempuan berwarna putih dengan foto bergambar dirinya sewaktu masih bayi (sok imut banget nich), sementara cangkirku bentuknya lebih lebar dibandingkan cangkir lainnya (seperti orangnya, paling lebar dibanding anggota keluarga yang lain) dengan foto bergambar diri sendiri khas cewek ABG Alay dengan mayoritas hiasannya berwarna pink. Tidak hanya senampan cangkir-cangkir kami, tetapi ada juga sepiring roti tawar atau kadang-kadang sepiring kue kukus, atau mungkin gorengan, atau semangkuk bubur atau semangkuk nasi goreng atau semangkuk mie instan (kadang-kadang menu sarapannya memang kurang bergizi, tapi yang penting makan!).

Baca lebih lanjut

2 rasa 1 waktu

Sudah pasti seluruh manusia di ujung atau di tengah-tengah dunia ini (apa sih) tahu, hapal rasanya sedih atau bahagia. Kalau sedih yah sedih, kalau bahagia yah bahagia (ya iyyalah). Tapi bagaimana kalau bahagia dan sedih itu datangnya bersamaan? Saya merasakan keduanya di satu waktu ….

Baca lebih lanjut

my moon (india banget sih judul postingan ini)

Sumber Gambar

Moon yang dalam bahasa Indonesia-nya adalah bulan. Lalu mengapa saya ingin menulis sesuatu tentang bulan? Pernah suatu hari, saya asedang duduk sendirian di teras rumah, kesendirian itu tiba-tiba menjalarkan sesuatu yang dingin ke seluruh tubuh saya, saya memperbaiki letak duduk saya sambil menengadahkan wajah saya ke langit, saya menyadari sinar bulan malam itu yang menuntun saya menatap bulan tidak kurang dari 5 menit. Kemudian saya menatap ke kanan dan kiri, jalanan begitu sepi di sekitar rumah saya. Pohon-pohon bergerak lembut, angin rupanya hanya membelai segelintir rantingnya. Lampu jalan banyak yang mati, saya kembali menatap bulan. Memperhatikan lekuk bangunan yang ditimpa sinar bulan, seperti siluet yang menebar tinta emas di permukaan dan garis-garis gedung itu. Saya kemudian teringat, seminggu lalu saya pun sempat mengagumi bulan. Di suatu malam ketika sepulang dari event kantor. Saya melalui tanah kosong yang sepi tanpa lampu bantuan cahaya lampu jalan, kedip-kedipan cahaya bulan malam itu, memberi nuansa tersendiri selama perjalanan pulangku waktu itu. Ada rasa khidmat mengalir tulus, susah kujelaskan.

Dan malam ini, kembali saya mendapati diri saya  mengangumi bulan. Saya tahu bulan hanyalah sebongkah batu planet dingin yang tidak mungkin mampu ditempati manusia,  bagi kebanyakan orang, ia bahkan hanyalah bayang-bayang dari matahari. Keindahannya sangat bergantung pada matahari. Tetapi, rupanya ia memiliki aura mencengangkan, ia begitu mudah dicintai daripada teriknya matahari. Jika ia sudah berbentuk bulat penuh, ia membiarkan air di permukaan bumi menjadi surut, padahal pada waktu itulah, ia total membagi cahaya matahari yang ia peroleh pada bumi. Tidak satupun dari logikaku sanggup bermusuhan dengan keindahan bulat penuhnya itu. 

Baca lebih lanjut